Kukatakan bukan
Dia bukan pelarian
Dia cinta
Dia sesungguhnya cinta
Tak pernah surut
Selalu berpendar
Dia ada
Kapan saja ada
Dan selalu ada
Tak pernah tiada
Dia menemani
Selalu disini
Tak pernah pergi
Tak biarkan ku sendiri
Aku yang datang dan pergi
Datang saat bersedih
Pergi saat datang pelangi
Dan selalu berharap Kau ampuni
Oh Sang Mahabaik
Kau peluk tanpa harus merintih
Kau dekap tanpa harus meratap
Aku makhluk yang tak tau adab
Tuntun aku
Kembali padaMu
Tanpa pergi
Tanpa lari... lagi.
Ku katakan
Dia bukan pelarian
Easter Dress
Senin, 22 Oktober 2018
Selasa, 19 Juni 2018
Paradigma Istri Soleha dan Memasak
Sejak
kecil aku tinggal di keluarga yang memandang bahwa perempuan itu harus mengerti
tentang dapur sekalipun dia itu adalah orang berpendidikan. Baginya pekerjaan
dapur adalah benar-benar kewajiban bagi seorang perempuan dan tidak boleh
ditinggalkan. Ketika usia SD aku tinggal dengan nenekku beliau sudah
memperkenalkanku dengan dunia dapur, meski pada akhirnya aku lebih suka bermain
dengan teman sebayaku. Pada saat itu ada satu pesan nenekku yang paling aku
ingat karena beliau selalu mengulang-ulang pesan itu, katanya “nanti kalau
tinggal sama orang tuamu dan kamu tidak bisa masak dikira mbahnya tidak pernah mengajari”.
Usia yang terlalu dini untuk menghiraukan pesan itu, tapi rekaman memori anak
usia SD begitu baik dan membekas.
Hingga
pada suatu hari saat aku duduk dibangku SMP aku membaca sebuah artikel tentang “istri soleha”, didalam
artikel itu dituliskan katanya istri soleha itu bukan yang bisa membedakan mana
jahe dan mana kunyit (dalam kata lain bukan yang bisa memasak) tapi istri
soleha itu adalah dia yang bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram
untuk kemudian memastikan bahwa makanan yang diberikan kepada keluarganya
adalah makanan yang halal dan toyib. Seketika itu aku merasa cocok sekali
dengan artikel itu dan tertanam dalam pikiranku. Sekian lama aku berpegang
teguh pada prinsip itu, prinsip yang dipengaruhi oleh artikel itu bahwa
perempuan tidak harus bisa memasak yang penting mengerti mana yang halal dan
haram serta patut untuk diberikan pada keluarganya.
Well,
pada suatu hari aku sudah tinggal dengan orang tuaku, saat itu aku duduk
dibangku SMP. Ibuku pun memiliki prinsip yang sama dengan nenekku bahwa
perempuan itu harus mengerti dunia dapur. Ibuku adalah seorang wanita karir
yang hampir setiap hari bekerja di kantor, setiap pagi sebelum berangkat
bekerja beliau selalu menyempatkan untuk memasak untuk kami sekeluarga, apalagi
di hari libur akan ada surga makanan di rumah. Setiap libur sekolah ibuku
selalu menuntutku untuk membantunya memasak. Kadang memasak itu memang
menyenangkan tapi kadang juga membosankan bagi anak usia SMP sepertiku apalagi
saat itu masih tertanam dalam pikiranku bahwa istri soleha itu yang bisa
membedakan yang halal dan haram tidak harus bisa memasak.
Aku
memiliki orientasi yang tinggi terhadap pendidikan, bagiku urusan sekolah itu
nomor satu, yang lain menyusul setelah urusan sekolah selesai termasuk dalam
hal urusan rumah. Aku ingat pada saat itu aku memancing amarah ibuku dan beliau
mengatakan bahwa sekalipun perempuan itu pintar dalam hal akademik tapi juga
harus pintar dalam hal mengurus rumah. Baginya hampir tiada artinya jika
perempuan itu hanya pintar dalam hal akademik tapi tidak pandai dalam hal
mengurus rumah yang salah satunya adalah memasak.
Saat
aku duduk dibangku SMA, kegiatan di sekolah semakin banyak dan aku semakin
sibuk dan jarang di rumah apalagi memikirkan tentang memasak hampir tidak terbersit
dalam benakku, namun ketika aku di rumah ibuku selalu berusaha melibatkanku
ketika memasak. Ketika itu pemikiranku sudah sedikit berubah, aku mau memasak
saat memiliki waktu luang. Tapi, prinsip halal dan haram masih tertanam kuat
dalam pikiranku. Hingga suatu hari saat aku dan ibuku sedang memasak bersama
tiba-tiba ibuku bilang “Perempuan itu harus bisa memasak, besok-besok kalau
punya mertua dan kamu tidak bisa memasak dikira ibunya tidak pernah mengajari”.
Ah aku tertegun mendengar ibuku mengatakan itu, kata-kata itu pernah diucapkan
nenekku dulu hanya sedikit berbeda konteks. Ternyata nenekku dan ibuku memiliki
pemikiran yang sama dan aku yakin mereka tidak janjian untuk mengatakan itu
padaku. Aku lupa bilang, mengapa nenekku dan ibuku selalu berpesan seperti itu
padaku, menurut pandanganku karena kebetulan baik aku maupun ibuku adalah
satu-satunya anak perempuan didalam keluarga jadi tidak ada lagi yang dituntut
untuk bisa memasak selain kami hehehe.
Sampai
aku duduk dibangku kuliah aku belum memiliki minat yang tinggi terhadap
memasak, baru sekedar mau jika memiliki waktu luang. Aku belum memprioritaskan
memasak dalam keahlian yang harus aku miliki. Memasak sih bisa tapi rasa masakannya
masih begitu-begitu saja, menakar bumbu pun masih belum bisa mengira-ngira
bahkan terkadang lupa apa saja bumbunya karena memasak tidak menjadi rutinitas.
Sampai saat ini prinsip halal dan haram masih menancap kuat dalam pikiranku,
bagiku pengetahuan tentang hukum agama yang perlu di upgrade, urusan bisa masak atau tidak itu belakangan. Toh jaman sekarang
anak seusiaku banyak yag tidak bisa memasak bahkan rasanya skill memasakku masih mendingan daripada kebanyakan teman sebayaku
yang tidak pernah merambah dunia dapur. Mungkin pemikiran ini yang hingga
sekarang membuat memasak tidak menjadi sebuah keutamaan.
Diakhir
masa kuliah, aku sudah semakin jarang memasak tidak seperti dulu yang hampir
setiap minggu selalu membantu ibuku memasak meskipun belum bisa untuk
dilepaskan memasak sendiri. Rasanya memasak itu seperti quality time bersama ibuku karena kesibukan yang saat ini mendera. Sampai
pada suatu hari saat kami sedang memasak bersama, ibuku banyak bercerita dan
tidak biasanya ibuku seperti itu. Ibuku banyak menasihatiku tentang pernikahan
dan mengurus rumah tangga salah satunya tentang memuliakan dan menyenangkan
hati mertua dengan cara menengok dan memasakkan makanan untuk mertua. Kata-kata
ibuku saat itu benar-benar menggetarkan hati dan membuatku instrospeksi diri.
Di
usiaku saat ini banyak cerita-cerita tentang pernikahan yang aku dengar dari
orang-orang terdekat, meskipun aku belum menikah tapi aku banyak belajar dari
cerita-cerita yang aku dengar. Dari berbagai cerita yang aku dapat ternyata mengurus
rumah tangga itu tidak semudah yang dibayangkan dan terkadang permasalahan
kecil bisa menjadi besar. Persoalan makananpun bisa menjadi pemicu
pertengkaran. Apalagi mendengar cerita menantu dan mertua yang tidak akur hanya
karena persoalan memasak.
Dari pesan ibuku dan cerita-cerita orang-orang disekitarku, akupun berpikir
bahwa memasakkan suami dan mertua itu bisa menyenangkan hatinya. Bukankan menyenagkan
hati orang lain itu juga bagian dari ibadah. Ternyata membahagiakan keluarga
sesederhana itu. Dan akhirnya aku menyadari bahwa istri soleha itu bukan hanya
yang bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram untuk keluarganya
tetapi menyenangkan hati keluarga yang salah satunya dengan memasak itu juga
rentetan dari yang disebut seorang istri soleha.
Pendewasaan
itu merupakan sebuah proses, pembelajaran bukan hanya didapatkan dari bangku
sekolah namun pada hakikatnya sepanjang perjalanan hidup adalah belajar,
tentang apapun itu.
Semoga
Allah selalu memudahkan langkah kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Jangan
dilihat siapa yang menulis tapi ambil hikmah dari isi tulisannya.
Sebab
si penulis juga belum pandai memasak dan belum menjadi seorang istri apalagi
istri yang soleha.
Jumat, 25 Maret 2016
Pemegang Amanah Rakyat
Lihat
aku…
Bukan
sebagai petinggi negri
Bukan
penguasa kerajaan ini
Bukan
pula pemilik tahta ini
Dengar aku…
Dengar aku sebagai rakyat jelata
Secuil dari nurani negri yang kau
pimpin
Yang hanya mampu melihat dan
mendengar
Tanpa mampu mengungkap dengan bebas
Lihat
dan dengarkan mereka…
Hati
yang pernah kau gores dengan janji
Pikir
yang pernah kau tulis dengan harap
Tubuh
yang pernah kau pupuk dengan mimpi
Kata
– katamu tlah berlalu menjadi abu
Rintik
kecil yang membekas di tanah ini
Aku
masih mencari letak kesungguhanmu
Dimana
aku akan menemukan yang kau janji?
Sebab
akulah hati kecil yang kan kau bawa
Mengarungi
negri dibawah kaki tanganmu
Kamis, 14 Januari 2016
Sahabat, Aku Rindu
![]() |
| Sumber Gambar : google.com |
Hi
Dear,
Andaikan
aku tau akhirnya akan seperti ini, aku akan lebih memilih untuk tidak pernah
jatuh cinta. Ya, pada saat itu segalanya memang terasa indah. Tapi bagaimana
dengan hari ini?. Tidak ada yang bisa dikatakan baik – baik saja, karena memang
tidak baik – baik saja.
Andaikan
aku tau akhirnya akan seperti ini, aku tidak akan pernah memberi sebingkai
hatiku untukmu. Membelai lembut jalan takdir yang sungguh tidak mudah. Mendaki
mimpi yang dulu pernah kita rangkai bersama, berharap akan selalu bahagia
bersama.
Dulu,
kita pernah saling membahagiakan, pernah saling memberi rasa. Jauh sebelum aku
mengenal rasa itu, aku telah lebih dulu mengenalmu sebagai seorang sahabat yang
baik. Hingga pada akhirnya, rasa itupun hadir diantara kita.
Dear,
aku rindu…
Bukan
rindu saat kita sama – sama saling memberi rasa, tapi aku rindu saat kita bisa
bersahabat dengan baik. Bebas bercanda, bebas ngata – ngatain, bebas tertawa
lepas, bebas kemana – mana bersama dan bebas saling curhat tentang masalah kita
masing – masing. Aku rindu saat kita sama – sama saling mendengar, saat
bercengkerama dengan begitu akrabnya… tanpa beban. Aku rindu saat kita turut
bahagia ketika salah satu dari kita menemukan belahan jiwanya dan mendengar
saat salah satu dari kita sedang patah hati.
Begitu
menyedihkan jika akhirnya harus seperti ini, kehidupan kita nampak begitu
berjarak, kita memang jauh, tidak pada tempat yang sama, namun dengan segala
kemudahan teknologi segalanya bisa nampak di depan mata. Namun, seolah kita tak
melihat, seolah kita tak mendengar, seolah salah satu dari kita tak ada disana.
Aku
iri dengan mereka yang mampu mengembalikan suasana. Saat mereka tidak lagi
saling jatuh cinta, semua dapat kembali seperti sebelum mereka saling
membahagiakan. Aku ingin seperti itu, mengembalikan keadaan seperti sebelum
kita sama – sama saling membahagiakan, dan sama – sama saling memberi rasa. Ya
seperti saat kita mampu menjadi sahabat yang baik, melupakan segala kenangan
manis dan segala kepahitan yang pernah kita lalui bersama. Biarkan semua
mengalir dan biarkan kita bahagia dengan jalan yang tlah kita pilih. Bersama
kembali dengan ikatan persahabatan yang sudah lama kita lupakan.
Jumat, 30 Oktober 2015
![]() |
| sumber gambar : www.google.com |
KU TAHU MEREKA RINDU
Oleh : Dewi Permata
Ku tahu mereka rindu
Menyatu dalam tawa
Menangis dalam haru
Bercengkerama dilangit senja
Ku tahu mereka hanya merindu
Dalam protes kecil saat jumpa
Meminta sejenak detikku untuknya
Untuk sekedar melantun suara bersama
Ku tahu mereka begitu rindu
Dalam amarah yang terbawa
Dalam tawa yang sedikit terlupa
Dalam hati yang membawa rasa
Ku tahu mereka rindu
Ku tahu mereka hanya merindu
Ku tahu mereka begitu rindu
Untuk memeluk hangat sang waktu
Sidoarjo, 30/10/15
Sabtu, 22 Agustus 2015
Rindu
![]() |
| sumber gambar : www.google.com |
Kau adalah orang yang penuh kasih
Ikhlas mengajari setiap langkahku
Tetap berjuang meski harus tertatih
Sungguh aku sangat mengagumimu
Kau pelindung saat rasa takut hadir
Kau pelindung saat gundah melanda
Entah, kau bagai peri cantik untukku
Sungguh aku sangat menyayangimu
Ketika setiap kebaikan sulit diungkap
Begitu juga dengan cinta yang besar
Rasa kasih yang seolah tanpa celah
Menerima dan mendengar tanpa cela
Sungguh kau orang yang selalu ku rindu
Rindu kehadiran dan kenangan indah
Rindu senyum, salam dan kehangatan
Rindu segalanya yang membuat indah
Sayang, mungkin kau kecewa padaku
Pada adikmu yang tak sesuai inginmu
Hingga segala rasa menjadi angin lalu
Dan tak peduli dengan sulitnya aku
Menyakitkan memang
Menyedihkan memang
Kecewa sudah tentu
Hanya tangis dalam hatiku
Mengapa kau lakukan itu?
Hormatku tak luntur setitikpun
Mengapa kau hapus kasihmu?
Sayangku tak pudar sedikitpun
Inilah nila dalam susu
Merusak segala – galanya
Semua yang terjalin baik
Harus terputus begitu saja
Aku rindu cintamu
Aku rindu kasihmu
Rindu semua tentangmu
Tentangmu yang dulu
Kamis, 02 April 2015
Aku Rindu
Tuhan, Aku rindu…
Rindu berlinang air mata diatas sajadahMu
Aku rindu menengadahkan tanganku padaMu
Membasahi penutup auratku dengan tangisku
Tuhan, Maafkan aku…
Maafkan segala keluh dan juga kesahku padaMu
Ampuni setiap dosaku
yang tak pernah usai
Bertambah dan terus bertambah setiap waktunya
Tuhan aku merindukanmu dalam baris doaku
Aku mengerti, aku tak pernah setia padaMu
Aku hanya hadir saat aku membutuhkanMu
Lalu imanku lumpuh saat kau kabulkan inginku
Aku datang saat aku memiliki hajat besar dihidupku
Aku bermohon padaMu saat masalah datang menimpaku
Tuhan, Aku rindu padaMu
Tuhan , Maafkanlah hambaMu
Tuhan, Peluklah aku dalam kasihMu
Tuhan, Tuntunlah aku hidupku.
Langganan:
Postingan (Atom)



