Easter Dress

Kamis, 14 Januari 2016

Sahabat, Aku Rindu

Sumber Gambar : google.com
         
Hi Dear,
Andaikan aku tau akhirnya akan seperti ini, aku akan lebih memilih untuk tidak pernah jatuh cinta. Ya, pada saat itu segalanya memang terasa indah. Tapi bagaimana dengan hari ini?. Tidak ada yang bisa dikatakan baik – baik saja, karena memang tidak baik – baik saja.
Andaikan aku tau akhirnya akan seperti ini, aku tidak akan pernah memberi sebingkai hatiku untukmu. Membelai lembut jalan takdir yang sungguh tidak mudah. Mendaki mimpi yang dulu pernah kita rangkai bersama, berharap akan selalu bahagia bersama.
Dulu, kita pernah saling membahagiakan, pernah saling memberi rasa. Jauh sebelum aku mengenal rasa itu, aku telah lebih dulu mengenalmu sebagai seorang sahabat yang baik. Hingga pada akhirnya, rasa itupun hadir diantara kita.
Dear, aku rindu…
Bukan rindu saat kita sama – sama saling memberi rasa, tapi aku rindu saat kita bisa bersahabat dengan baik. Bebas bercanda, bebas ngata – ngatain, bebas tertawa lepas, bebas kemana – mana bersama dan bebas saling curhat tentang masalah kita masing – masing. Aku rindu saat kita sama – sama saling mendengar, saat bercengkerama dengan begitu akrabnya… tanpa beban. Aku rindu saat kita turut bahagia ketika salah satu dari kita menemukan belahan jiwanya dan mendengar saat salah satu dari kita sedang patah hati.
Begitu menyedihkan jika akhirnya harus seperti ini, kehidupan kita nampak begitu berjarak, kita memang jauh, tidak pada tempat yang sama, namun dengan segala kemudahan teknologi segalanya bisa nampak di depan mata. Namun, seolah kita tak melihat, seolah kita tak mendengar, seolah salah satu dari kita tak ada disana.

Aku iri dengan mereka yang mampu mengembalikan suasana. Saat mereka tidak lagi saling jatuh cinta, semua dapat kembali seperti sebelum mereka saling membahagiakan. Aku ingin seperti itu, mengembalikan keadaan seperti sebelum kita sama – sama saling membahagiakan, dan sama – sama saling memberi rasa. Ya seperti saat kita mampu menjadi sahabat yang baik, melupakan segala kenangan manis dan segala kepahitan yang pernah kita lalui bersama. Biarkan semua mengalir dan biarkan kita bahagia dengan jalan yang tlah kita pilih. Bersama kembali dengan ikatan persahabatan yang sudah lama kita lupakan. 

Jumat, 30 Oktober 2015

sumber gambar : www.google.com

KU TAHU MEREKA RINDU
Oleh : Dewi Permata
Ku tahu mereka rindu
Menyatu dalam tawa
Menangis dalam haru
Bercengkerama dilangit senja

Ku tahu mereka hanya merindu
Dalam protes kecil saat jumpa
Meminta sejenak detikku untuknya
Untuk sekedar melantun suara bersama

Ku tahu mereka begitu rindu
Dalam amarah yang terbawa
Dalam tawa yang sedikit terlupa
Dalam hati yang membawa rasa

Ku tahu mereka rindu
Ku tahu mereka hanya merindu
Ku tahu mereka begitu rindu
Untuk memeluk hangat sang waktu


Sidoarjo, 30/10/15

Sabtu, 22 Agustus 2015

Rindu



sumber gambar : www.google.com


Kau adalah orang yang penuh kasih
Ikhlas mengajari setiap langkahku
Tetap berjuang meski harus tertatih
Sungguh aku sangat mengagumimu

Kau pelindung saat rasa takut hadir
Kau pelindung saat gundah melanda
Entah, kau bagai peri cantik untukku
Sungguh aku sangat menyayangimu

Ketika setiap kebaikan sulit diungkap
Begitu juga dengan  cinta yang besar
Rasa kasih yang seolah tanpa celah
Menerima dan mendengar tanpa cela

Sungguh kau orang yang selalu ku rindu
Rindu kehadiran dan kenangan indah
Rindu senyum, salam dan kehangatan
Rindu segalanya yang membuat indah

Sayang, mungkin kau kecewa padaku
Pada adikmu yang tak sesuai inginmu
Hingga segala rasa  menjadi angin lalu
Dan tak peduli dengan sulitnya aku

Menyakitkan memang
Menyedihkan memang
Kecewa sudah tentu
Hanya tangis dalam hatiku

Mengapa kau lakukan itu?
Hormatku tak luntur setitikpun
Mengapa kau hapus kasihmu?
Sayangku tak pudar sedikitpun

Inilah nila dalam susu
Merusak segala – galanya
Semua yang terjalin baik
Harus terputus begitu saja

Aku rindu cintamu
Aku rindu kasihmu
Rindu semua tentangmu
Tentangmu yang dulu

Kamis, 02 April 2015

Aku Rindu


Tuhan, Aku rindu…
Rindu berlinang air mata diatas sajadahMu
Aku rindu menengadahkan tanganku padaMu
Membasahi penutup auratku dengan tangisku

Tuhan, Maafkan aku…
Maafkan segala keluh dan juga kesahku padaMu
Ampuni setiap dosaku  yang tak pernah usai
Bertambah dan terus bertambah setiap waktunya

Tuhan aku merindukanmu dalam baris doaku
Aku mengerti, aku tak pernah setia padaMu
Aku hanya hadir saat aku membutuhkanMu
Lalu imanku lumpuh saat kau kabulkan inginku

Aku datang saat aku memiliki hajat besar dihidupku
Aku bermohon padaMu saat masalah datang menimpaku

Tuhan, Aku rindu padaMu
Tuhan , Maafkanlah hambaMu
Tuhan, Peluklah aku dalam kasihMu
Tuhan, Tuntunlah aku hidupku.


Minggu, 15 Februari 2015

keluarga inspirasiku

Dan setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Setiap awal pasti akan ada akhir, semua akan sampai pada masanya. Meski demikian hanya nama saja yang berakhir masa aktifnya tapi tidak untuk cinta dan keluarga, semua tak akan pernah lekang meski waktu telah menyampaikan batasnya. Semua akan berubah menjadi sebuah cerita dan sejarah di masa lalu yang mampu untuk dikenang sampai kapanpun.
Mereka adalah orang – orang luar biasa, member warna dalam satu tahun yang lalu. Ada suka duka canda dan tawa di rumah kecil kami. Saling memeluk dan menguatkan, saling mengingatkan saat lupa, ada yang meghapus air mata ketika ia jatuh berlinangan, bersedia mendengar meski letih sudah menjalar. Saling memaafkan dan menutupi kekurangan.
Kami yang pertama layaknya orang asing yang dikumpulkan dalam rumah kedamaian hingga waktu membawa kami menjadi sebuah keluarga. Saling memperkenalkan tentang apa yang belum pernah diketahui, belajar tentang loyalitas, kesetiaan dan keikhlasan. Bahagia ditengah mereka orang – orang yang luar biasa penuh inspirasi. Berjuang meski banyak waktu terkorbankan, tepukan tangan riuh untuk hasil sebuah perjuangan. Tak hanya mengabdi didalam, suatu ketika kitapun perlu untuk merehatkan sejenak segala pikiran. Melepas lelah bersama menikmati seteguk keindahan kota Surabaya. Menulis kenangan dan mengumpulkan segala pengalaman yang menggelitik dan tak terlupakan.
Kini saatnya keluarga inspirasi ini berganti masa. Terimakasih kakak – kakakku yang sudah setia membimbing, berbagi ilmu, mengayomi dan menyayangi. Terimakasih rekan – rekanku, sahabat – sahabatku, saudara – saudaraku atas support dan kerjasamanya selama ini. Terimakasih keluargaku. Terimakasih untuk satu tahun yang telah kita lewati bersama, terimakasih untuk pembelajaran yang sangat berharga dan untuk kenangan yang luar biasa.

Terimakasih Keluarga Inspirasi BEM FKp 2014, terimakasih keluarga kecilku yang luar biasa Departemen Sosial 2014. Semoga kita tetap menjadi keluarga sampai kapanpun.
farewell BEM FKp 2014

keluarga sosialita

depsos tercinta

depsos 2014

keluarga inspirasi BEM FKp 2014

BEM 2014 
depsos tercinta :3

Sabtu, 07 Februari 2015

next trip :)

Welcome to my holiday. Saatnya saudaraku Putri dan Sita pulang ke Jogjakarta. Akupun tak melewatkan kesempatan ini. Aku turut bersama mereka ke Kota Gudeg Jogjakarta. Dari Sidoarjo kami naik kereta logawa turun di stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Rencana awal sih mau ketemu temanku Carla yang sedang berlibur di rumah neneknya di Klaten Jawa Tengah. Kita mau jalan – jalan ke Candi Prambanan. Sudah dari SMP aku ingin mengunjungi Candi Legenda Roro Jonggrang itu. Entah apa yang memikat hatiku hingga ingin sekali aku kesana namun hingga saat ini belum kesampaian. Setiap kali kesana selalu saja gagal ada saja yang membuat rencanaku batal, dan kali ini, lagi – lagi gagal lagi, sedih deh. Aku hanya memiliki kesempatan sehari bertemu dengan Carla pada tanggal 1 Februari karena dia sudah harus kembali ke Sidoarjo tanggal 2. Eh mungkin belum takdirku ke Candi itu, di rumah saudara Carla ada acara pengajian dan Carla membatalkan rencana kami.
Finally, aku menginap di rumah Putri dan bermain ke rumah saudaraku yang lain yang ada di Jogjakarta juga. Putri mengajakku berkeliling Jogjakarta, tujuan awal kami ke Alun – Alun Kidul Jogjakarta yang tak jauh dari rumahnya. Disana ada pohon beringin yang sudah terkenal. Mitosnya jika menutup mata dari ujung dan berjalan kearah pohon beringin jika kita dapat berjalan lurus maka keinginan kita akan terkabul. Namun, aku tidak mencobanya karena menurut saya hal seperti itu sesuai pada keyakinan masing – masing. Kami hanya duduk menikmati ramainya Alun – Alun Kidul sambil menikmati wedang ronde khas Jogjakarta. Ini pertama kalinya aku menikmati wedang ronde, awalnya ragu karena kuah ronde terbuat dari jahe. Maklumlah saya tidak menyukai kuliner rasa pedas dan mint hehe. Tapi saat mencoba wedang ronde ini, rasanya hmmm cukup menggugah selera, saya suka dengan isinya yang beraneka ragam hanya tidak bisa menghabiskan kuahnya saja karena rasa mint.
Esoknya, saya diajak ke sandmor (Sunday Morning) di perbatasan jalan kampus UGM dan UNY. Namanya Sandmor karena memang hanya ada saat minggu pagi saja. Sandmor ini sejenis pasar kaget yang menjual beraneka ragam mulai dari makanan hingga pakaian. Malamnya sebenarnya saya sudah ada janji dengan teman kuliah saya Rosi yang berasal dari Jogjakarta. Namun sayang, waktu yang kami pilih ternyata diguyur hujan. Sayang sekali karena besoknya saya sudah harus berlanjut ke rumah nenek saya di Purworejo Jawa Tengah.
Sebelum ke rumah nenek saya, pagi hari saya diajak putri ke kampusnya di Universitas Gajah Mada.  Saya diajak keliling Universitas ternama ini dan wow kampusnya sangat besar dan terlihat seperti tidak ada ujungnya. Menurut saya ini lebih besar dari kampus ITS di Surabaya dan lebih besar dari kampus saya sendiri Unair jika tiga kampus dijadikan satu. Kampusnya seperti terpisah oleh jalan raya namun itu tetap milik UGM sendiri. Dijamin capek kalau lari keliling UGM hehe. UGM juga punya Rumah Sakit seperti Unair namun saat ini Rumah Sakit tersebut sudah menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Jogjakarta. Rumah Sakit ini memiliki jembatan penghubung ke Fakultas Kedokteran UGM yang mempermudah Mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM jika menuntut ilmu di Rumah Sakit.
Sebelumnya saya sudah berjanji untuk menceritakan lalu lintas kota Jogjakarta yang sangat berbeda sekali dengan Surabaya. Saya benar – benar membuktikan kata – kata saudara saya yang mengatakan betapa tertibnya lalu lintas kota Jogja. Saya benar – benar tidak menjumpai pengendara yang berhenti di depan zebra cross saat lampu merah, sayapun juga tidak mendengar suara bising klakson seperti di Surabaya. Dan yang paling penting disini jauh dari kemacetan. Hanya beberapa titik dekat kompleks Kampus saja yang sering terjadi kemacetan. Meskipun Kota Besar, Jogjakarta ini masih kental dengan nuansa tradisional, tidak banyak gedung – gedung tinggi pencakar langit seperti yang dikatakan saudara saya ketika di Surabaya. Bangunan disini lebih kental dengan suasana tradisional meskipun sudah banyak juga yang sudah modern. Nama jalan disini juga masih menggunakan bahasa kejawen alias ke jawa jawaan yang notabene merupakan nama Keraton Jogjakarta yang tak jauh dari rumah saudara saya.
Lanjut siang harinya kami langsung berangkat ke rumah nenek kami di Desa Lubang Indangan, Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo yang merupakan tempat dimana saya dibesarkan. Dari Jogjakarta kami membutuhkan waktu dua jam untuk dapat sampai ke rumah nenek kami dengan mengendarai sepeda motor. Saya disambut gembira oleh kakek saya yang sudah menunggu sejak saya berangkat dari Sidoarjo. Sayapun menyempatkan bertemu dengan sahabat saya yang sudah menemani saya dari kecil hingga sekarang kami terpisah karena saya tinggal di sidoarjo. Namanya Erni, dia adalah sahabat sepanjang masa bagi saya. Pertemanan kami tidak putus meski saya sudah pindah ke Sidoarjo sejak kelas 2 SMP.
Tak banyak yang saya lakukan di tempat ini, ya saya hanya menikmati suasana pedesaan di tempat nenek saya tinggal dan mengunjungi saudara saya yang masih terjangkau oleh saya. Maklum disini saya tidak ada kendaraan untuk mondar – mandir. Dari Kotanya pun jauh. Saya menyempatkan ke Rumah Budhe saya yang tak jauh dari rumah nenek saya sebenarnya saya dan Putri ingin berkuliner siomay khas daerah sini yang rasanya tidak terkalahkan dengan siomay di sidoarjo. Siomay disini seperti pentol namun berukuran besar. Namun, sayang kami kurang beruntung, siomay langganan kami sedang tidak berjualan. Sayapun mengajak Putri ke rumah Budhe saya yang tak jauh dari tempat penjual siomay. Saya larut dengan cerita Budhe saya saat saya masih kecil dan turut di rawat Budhe saya dan selalu tidak ingin berpisah dengan beliau. Beliaupun merupakan salah satu orang yang berjasa dalam hidup saya saat saya tinggal di rumah nenek saya. Saya juga memiliki sepupu yaitu anak dari Budhe saya yangsewaktu kecil bergantian saya yang ngemong sampai tidak mau ditinggal oleh saya. Persis seperti saya dan ibunya dulu. Namun, sejak saya pindah di Sidoarjo usianya sekitar 3 tahun dia sudah mulai lupa dengan saya dan setiap bertemu selalu malu dan tak seperti dulu lagi. Sekarang dia sudah duduk di bangku kelas 4 SD.
Disini yang tak pernah terlupakan adalah kali / sungai di dekat rumah nenek saya yang sampai saat inipun saya tidak mengetahui namanya. Dulunya kali ini airnya jernih pemandangannya bagus. Masih terlihat hitamnya pasir saat menyeberanginya. Dari tanggul Nampak pemandangan gunung – gunung yang berjajar, apalagi saat pagi dan sore hari menambah indahnya pemandangan Kali ini. Bagi yang mengetahui legenda tangkuban perahu, gunungnyapun terlihat dari tanggul yang mengapit Kali ini. Kali ini diapit dua tanggul, tanggul sebelah timur membatasi Kali dengan pemukiman penduduk dan sebelum pemukiman ada sebuah Kali kecil yang memperindah pemandangan Desa ini. Di sebelah barat, tanggul membatasi Kali dengan sawah penduduk yang luasnya sangat luas sekali dan sayapun belum pernah mengukurnya hehe. Sebelum sawah juga dibatasi dengan Kali kecil sama seperti pemukiman penduduk. Disana banyak sawah nenek kami dan warga setempat, namun kakek dan nenek saya sudah tidak pernah mengurus sawahnya lagi karena usianya sudah sepuh. Sawahnya di buruhkan ke orang lain untuk mengurusnya. Sayangnya Putri, pulang terlebih dahulu meninggalkan saya di rumah nenek atau yang sering saya panggil simbah.
Terlalu banyak kenangan di Desa ini, banyak yang sudah berubah dari Desa ini. Dulu waktu saya kecil, anak – anak seusia saya masih banyak disana sini bermain berbagai permainan tradisional. Namun saat ini sudah sepi tak lagi seperti dulu. Kawan – kawan saya yang masih sering berjumpa hanya Erni saja karena yang lain sudah merantau keluar dari Desa ini. Erni sendiri juga kuliah di Jogjakarta namun masih sering pulang ke rumah. Di desa ini tinggal orang tua – tua saja, sepertinya generasi penerusnya sudah merantau mengais rejeki di kota – kota besar sana. Teman – teman seusia sayapun disini sudah banyak yang menikah dan memiliki anak. Padahal saya rasa usia saya yang akan menginjak 20 tahun ini saya masih seperti anak remaja yang masih belum bisa hidup mandiri mengurus rumah tangga. Saya masih menikmati masa – masa remaja saya dengan menuntut ilmu dan bermain dengan teman – teman saya.
Semoga kedepan Desa tempat saya dibesarkan ini dapat semakin maju dan simbah saya juga dapat diberi keberkahan usia yang panjang dan kesehatan sehingga dapat melihat cucu cucunya besar dan menjadi orang yang berhasil serta membanggakan hingga saya dapat membalas budi baik beliau yang telah membesarkan saya dari bayi.
Sayangnya, saya tidak bisa ke rumah nenek saya yang satunya yang tinggal di daerah pegunungan di Desa Kali Jering Kecamatan Pituruh yang pemandangan alamnya lebih luar biasa lagi. Kalau teman – teman memandang mendaki gunung adalah hal yang luar biasa, bagi saya itu biasa saja karena setiap tahun saat lebaran tiba saya dan keluarga selalu mendaki gunung dengan jarak sekitar 3 km dengan berjalan kaki ke rumah nenek saya tersebut. Lelahnya jangan ditanya namun pemandangan disana sungguh mengagumkan. Semoga pemerintah semakin memperhatikan desa – desa pelosok seperti Desa nenek saya di puncak gunung Kali Jering sana.
Tidak terasa dua minggu ini saya lewati dengan berlibur dibeberapa kota dari Jawa Timur, Jawa Tengah hingga pulau Madura. Saatnya saya kembali menikmati libur saya di rumah dengan beberapa pekerjaan yang sudah menanti. Sampai jumpa di liburan berikutnya J



indahnya sunset di kali dekat rumah nenekku

kebun di dekat kali

tanggul 

kali kecil yang membatasi tanggul dengan rumah penduduk



Rabu, 04 Februari 2015

Happy Holiday Part 2

Bertemu lagi dengan liburan hari ke dua, kali ini agenda kami adalah ke Kota Apel yaitu Kota Malang yang memang sudah terkenal dengan eksotika tempat wisata dengan berbagai macam penawaran wisata yang dijamin nggak akan bikin bosen kalau datang kesana dan selalu ingin lagi dan lagi kesana, karena rasanya nggak habis – habis wisata yang bisa dikunjingi disana. Kali ini agenda kami adalah ke Museum Angkut. Sayangnya yang ikut ke Malang hanya berempat, Saya, Aldini, Putri (Hana) dan Sita karena yang lain memiliki agendanya masing – masing.
            Dari rumah Saya di Sidoarjo kami naik kereta penataran, harga tiketnya hanya Rp. 5.500,- saja. Sekedar informasi kami berempat ke Malang dengan bonek alias bondo nekat. Bagaimana tidak nekat, dari kami tidak ada yang tau jalan menuju tempat wisata yang akan kami tuju. Awalnya kami berencana ke Museum Angkut dan Selecta. Kami browsing angkutan umum dari stasiun Kota Baru Malang ke dua tempat tersebut. Hingga pada akhirnya, kami cukup beruntung bertemu dengan seorang mahasiswa Universitas Brawijaya dan mau berbagi pengetahuan tentang transportasi yang dapat kami gunakan ke dua tempat tersebut. Dari informasi kakak tadi kami akhirnya menyewa sepeda motor yang kontaknya kami dapatkan dari internet.
            Dari stasiun Kota Baru Malang kami naik angkot ADL ke tempat penyewaan sepeda motor yang sudah diberitahu alamatnya oleh pemilik rental. Naik angkot ke tempat rental biayanya Rp. 4.000,- / orang. Kamipun sampai ke tempat rental sepeda motor. Dari jalan raya kami masuk gang kurang lebih 100 meter untuk dapat sampai ke tempat rental. Harga penyewaan sepeda motor untuk mahasiswa luar Malang sebenarnya kisaran Rp. 60.000,-/ sepeda motor. Namun karena kami menyewa dari siang hingga sore hari alias setengah hari kami mendapat sepeda motor yang harga sebenarnya Rp. 70.000,- kami mendapat harga Rp. 50.000,-/ sepeda motor. Kami menyewa 2 sepeda motor untuk 4 orang dengan batas waktu hingga pukul 18.00 wib hanya dengan meninggalkan 2 KTP dan 2 KTM. Dengan petunjuk dari pemilik rental kamipun sampai di Museum Angkut karena jalannya cukup mudah. Dari tempat rental ke museum angkut membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit. Enaknya jalanan di Malang bebas macet.
            Yeeey akhirnya sampai juga di Museum Angkut. Baru sampai depannya saja kami sudah dimanjakan dengan desain budaya Indonesia yang ditengah – tengahnya didesain seperti sungai dan dikelilingi berbagai Kota di Indonesia. Sebelum masuk Museum kami menyempatkan diri intuk ishoma terlebih dahulu. Karena dikejar waktu kami segera masuk ke Museum. Tiket masuk Museum ini Rp. 50.000,- / orang. Jika ingin satu paket dengan museum D’topeng cukup menambah Rp.10.000,- saja. Sayangnya disini kamera tidak gratis. Dikenakan biaya Rp 30.000,-/ kamera jika ingin membawanya masuk.


depan kerajaan inggris

depan kerajaan inggris

wajah indonesia


di eropa

suasana eropa



         







    Namun segala kelelahan dan perjuangan kami untuk sampai ditempat inipun terbayar sudah dengan isi Museum Angkut yang menrut saya sangat tidak mengecewakan. Di dalam museum terdapat berbagai kendaraan mulai dari sepeda ontel hingga mobil jaman dulu yang jarang kita temui saat ini, yang lebih menarik hati saya, masuk di Museum ini serasa keliling Dunia. Di dalamnya terdapat berbagai miniatur Kota mulai di Indonesia hingga Eropa. Luar biasa hingga kami lupa waktu, padahal rencana jam 3 sore sudah harus keluar dari tempat ini namun kami baru bisa menyelesaikan keliling Museum hingga jam 5 sore. Rencana kami ke Selectapun harus batal. Kamipun istirahat dan solat setelah lelah berkeliling Museum. Setelah itu, kamipun langsung kembali ke tempat penyewaan motor dan tepat waktu mengembalikan motornya.



            Lanjut balik ke stasiun kami naik angkot ADL seperti saat berangkat. Sampai depan stasiun kamipun beristirahat solat dan melepas rasa lapar sambil menunggu kereta kami yang berangkat pukul 8 malam dan sampai di rumah di sidoarjo jam 10 malam. Cukup melelahkan namun menambah pengalaman baru bagi kami.
            Meski lelah, kami masih punya agenda esok hari yaitu ke pulau garam Madura dan ke Museum House of Sampoerna.
Dari rumah saya, kami harus berangkat jam 6 pagi. Kami sudah membuat janji bertemu dengan teman – teman yang lain di depan gerbang tol Suramadu. Jembatan terpanjang di Asia yang panjangnya saya tidak sempat mengukur hehe. . Oh iya, anggota kami bertambah satu orang, namanya Nisa dia adalah saudara Magita dari Palembang. Setelah berfoto di tepi pantai kamipun langsung berangkat ke Bangkalan menyeberangi jembatan Suramadu. Untuk sepeda motor dikenakan biaya tol Rp. 3.000,-/ sepeda motor. Sebenarnya tidak boleh berhenti di tengah jembatan. Namun, kami juga ingin mengabadikan moment diatas jembatan ini. Teman – teman jangan ditiru ya hehe.
jembatan suramadu dari dekat

mercusuar

            Dari jembatan kami menuju ke sebuah mercusuar peninggalan Belanda perjalanan kami cukup jauh membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam, luar biasa lelahnya. Masuk ke tempat ini dikenakan biaya masuk Rp. 2.000,-/ motor dan biaya kebersihan mercusuar Rp. 4.000,-/orang. Menara ini memiliki 16 lantai. Kebayang kan betapa lelahnya harus menaiki tangga 16 lantai yang tangganya juga cukup menakutkan. Namun lelah kami terbayar dengan pemandangan luar biasa yang dapat kami lihat dari puncak mercusuar. Kita dapat melihat eksotisme laut Madura dan kapal – kapal yang sedang berlayar di lautan. Karena waktu kami terbatas, kami harus kembali saat pukul setengah sebelas tiba karena kami harus sampai di Museum House of Sampurna pukul 12.00 wib jika ingin menikmati bus SHT. Kamipun kembali ke Surabaya dengan menaiki veri agar memiliki sensasi yang berbeda dengan saat berangkat, selain itu juga karena lebih cepat jadi kami lebih menghemat waktu. Naik veri dikenakan biaya Rp. 7.000,-/ sepeda motor dan Rp. 5.000,- untuk penumpangnya.

            Kamipun sampai di Surabaya. Bus SHT kami berangkat pukul 13.00 wib jadi kami masih memiliki waktu untuk solat terlebih dahulu. Dengan SHT kita bisa keliling Surabaya dengan rute yang telah ditentukan pihak pengelola kami juga memiliki tour guide yang menjelaskan setiap jalan yang kami lewati. Kami memiliki waktu satu jam  untuk berkeliling. Kali ini kami mengunjungi salah satu klenteng tertua di Surabaya yang saya lupa namanya dan Museum Bank Mandiri, kami ditemani salah satu turis asing asal jerman yang namanya saya lupa karena sulit diucapkan hehe. Ternyata Surabaya memiliki sejarah yang luar biasa dan dihuni oleh beberapa etnis mulai dari Jawa, Jepang, Belanda, Cina dan Arab. Selama ini saya sering menyusuri jalan ini namun tidak pernah tau sejarah KotaTua ini. Pengetahuan luar biasa tentang kota tempat saya menuntut ilmu ini.
            Selesai dari Museum House of Sampoerna kami mengisi perut di salah satu tempat goregan namanya goreng girang. Disana menjual pisang goreng dengan toping beraneka ragam membuat pisang goreng naik kasta dan tempat ini juga sudah terkenal bahkan sampai diliput oleh salah satu stasiun TV Nasional. Harganya cukup sebanding dengan rasanya Rp. 10.000,- dan Rp. 15.000,-/ porsi isi 6 pisang goreng bisa memilih dengan berbagai rasa. Selesai dari sini Surabaya diguyur hujan dan banjir, seperti inilah Surabaya. Kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Nuruzzaman Unair untuk menunaikan Solat Ashar. Hujan membuat malas untuk melanjutkan perjalanan namun kami menyempatkan diri ke belakang Monument Kapal Selam untuk sekedar berfoto dengan Icont Surabaya yaitu patung ikan dan buaya.

            Go Surabaya Kota Pahlawan, Kota yang menyimpan banyak sekali sejarahnya. Dan kini sudah menjadi kota metropolitan, semoga Surabaya kedepannya lebih luar biasa lagi dalam tata ruang kotanya dan tidak pernah melupakan sejarahnya. Sampai jumpa liburan berikutnya J