Easter Dress

Kamis, 10 September 2020

Hakikat Mempercayakan

Mungkin aku terlalu mindikte Tuhan

Seakan akan aku lebih tau kebaikan 

Aku bilang, nasibku telah kupercayakan

Segalanya telah aku pasrahkan 


Nyatanya kupasrahkan sesuai yang kuinginkan 

Aku tak siap jika tak sesuai harapan 


Semoga Tuhan yang penuh dengan kemurahan

Bersedia untuk memaafkan 

Selasa, 05 Mei 2020

Onion Ring

     
Menyelamatkan bahan-bahan yang lama tidak termasak, juga sebagai kegiatanenyenangkan selama #dirumahaja
Ada bawang bombay nganggur di kulkas bisa dibuat onion ring. Lumayan bisa buat takjil buka puasa 

Bahan :
1. Bawang bombay (1 aja udah jadi banyak) 
2. Tepung terigu kira kira 5 sendok makan atau menyesuaikan banyaknya bawang bombay yg akan dimasak
3. Tepung roti secukupnya (bikinnya gk di takar, pokoknya kalau kurang tinggal ditambah lagi hehe 
4. Bumbu : garam, merica dan penyedap rasa (semuanya secukupnya dan sesuai selera ya hehe) 
5. Minyak goreng

Cara membuat :
1. Campurkan tepung terigu dengan semua bumbu lalu dicampur dengan air secukupnya, jangan terlalu encer dan terlalu kental ya.
2. Iris bawang bombay berbentuk seperti ring
3. Masukkan bawang bombay kedalam tepung satu persatu 
4. Siapkan tepung roti, gulirkan bawang yang sudah dimasukkan dalam adonan tepung terigu kedalam tepung roti sampai semua terbalut tepung roti 
5. Masukkan dalam kulkas kurang lebih 15 menit
6. Panaskan minyak dan goreng sampai kuning keemasan 
7 onion ring siap disantap bersama saus tomat, mayonaise atau saus apapun yg kita suka 

Bahannya sederhana dan cara membuatnya pun mudah, rasanya juga gurih-gurih renyah. selamat mencoba 

Sabtu, 02 Mei 2020

Chesee Cake Milo

   


 Menjaga diri agar tidak bosan dan stress selama di rumah aja, akhirnya si tukang masak amatiran ini memutuskan untuk masak masakan sederhana dengan bahan seadanya di rumah.
   Resepnya nyontek di instagram sama youtube dengan sedikit modifikasi karena keterbatasan bahan .

    Hari ini coba buat cheese cake, niatnya bikin cheese cake oreo tp berhubung di rumah gk ada oreo jadi diganti sama milo
Judulnya jadi berubah "Cheese cake milo" 

    Nah, karena yg buat ini amatiran jadi takarannya juga amatiran hehehe
Berikut ini resep modifikasi cheese cake milo

Bahan
1. Harusnya susu cair full cream 400ml tp karena di rumah gk ada jadi diganti susu bubuk dan susu kental manis (takarannya sesuai selera yg penting sampai rasanya manis hehe. Kalau aku pakai susu dancow bubuk 1 sct ditambah susu kental manis asal masuk alias gk ditakar pokoknya sampai rasanya oke dilidah hehe) dilarutkan dengan 400 ml air. 

2. Keju parut sesuai selera

3. Milo bubuk 1-2 sct sesuai selera

4. Tepung maizena 3 sdm dilarutkan dalam air. 

Cara membuat :

1. Masak susu cair dicampur dengan keju parut, tunggu sampai mendidih.

2. Masukkan tepung maizena yang sudah dilarutkan, aduk-aduk sampai tercampur rata (apinya kecil aja ya). 

3. Tunggu sampai tercampur dan matang (matangnya juga kira-kira aja, yang penting pas di cicip sudah enak hehe) 

4. Kalau kurang manis boleh ditambah gula sesuai selera, enggak juga gkpapa 

5. Setelah adonan matang, saatnya platting.

6. Platting : masukkan adonan kemudian milo bubuk secara selang seling. Kalau aku kebetulan di rumah ada biskuit jadi bisa ditambah biskuit yang sudah dihancurkan. Setelah selesai paling atas taburi keju parut.

7. Masukkan ke dalam lemari es, tunggu selama 3 jam. 

     Jadi deh, resep modifikasi yang sederhana . alias ala kadarnya siap untuk berbuka puasa. 
         Karena lagi gk puasa jadi bikinnya bisa sambil cicip cicip, tapi kalau lagi puasa lebih baik ikut takaran resep yang ada di instagram atau youtube aja ya, banyak kok yang bikin tutorialnya.

       Resep ini cuma buat gambaran aja, kalau kalian bisa bikin cheese cake sesuai modifikasi kalian sendiri dengan bahan yang kalian punya di rumah. 

Meskipun #dirumahaja tetap bisa produktif 😊

Rabu, 02 Oktober 2019

Mengapa Bekerja di RSUA?

    Apakah anak unair pasti mendapat "golden ticket" untuk bekerja di RS unair?
       Jawabannya tentu tidak. Jangan dikira demikian karena tidak ada kerjasama antara FKp unair dan RS unair jadi semua murni seleksi. Jadi ketika tidak memenuhi kualifikasi ya tetap tidak bisa hal ini dibuktikan dengan tidak semua teman teman FKp unair yg mendaftar selalu lolos seleksi dan diterima bekerja. 
        Berbeda dengan teman teman yg kuliah di FIK UI karena kampus memiliki kerjasama dengan beberapa RS seperti RSCM dan Fatmawati (ada satu lagi saya lupa)  dan semua itu berdasarkan sistem ranking.  Jadi yg memiliki urutan ranking 1-30 berkesempatan bekerja di 3 RS tersebut tanpa tes alias mendapat "golden ticket" secara cuma cuma sebagai reward atas pencapaian prestasi mereka saat kuliah (info ini saya dapatkan dari saudara saya yg kuliah di FIK UI jd insyaAllah valid hehe).

      Jika berbicara prioritas apakah anak FKp selalu di prioritaskan?.  Kalau itu saya juga kurang tau karena tidak ikut menyeleksi hehe, yang saya tau sepanjang saya mendaftar di RS unair saya mengikuti beberapa tes secara bertahap dan tidak serta merta lolos begitu saja.

     Apakah kalau bukan anak unair bisa kerja disana?
      Tentu saja bisa, banyak kok yg bukan anak unair bekerja di RS unair. Menurut saya sistem tesnya cukup objektif, sepanjang yg saya tau. Jadi teman teman dari luar unair jangan underestimate terlebih dahulu sebelum mencoba ya.

     Mengapa saya memilih bekerja di RS unair ?

       Dulu waktu pertama kali lulus kuliah, selesai ambil sumpah sayapun sama seperti kebanyakan, hasrat seorang fresh graduate yaitu ingin cepat cepat kerja, apalagi dalam profesi keperawatan tidak semudah itu bekerja menjadi seorang klinisi karena syarat mutlak menjadi seorang klinisi adalah memiliki STR (surat tanda registrasi) nah untuk mendapatkan itu, kami harus melalui tes ukni/ ukom (uji kompetensi nasional)  semacam unasnya para perawat kalau ingin mendapat legalitas sebagai perawat, jadi ijazah aja gk cukup apalagi cuma SKL gk laku guys.
          Nah untuk mendapat STR perlu waktu kurang lebih 6 bulan . Agustus lulus - oktober ukni - november pengumuman kelulusan ukni - desember dapat serkom (setifikat kompetensi dari kampus) dan baru bisa mulai mengurus STR - paling cepat januari/februari STR terbit. Mudah mudahan Allah mudahkan langkah kecil kita untuk berjuang.  

    Karena proses panjang itu, apa iya selama proses menunggu STR mau jadi pengangguran?.  Kalau saya pribadi bukan soal takut diomongin orang karena sudah lulus sarjana dari kampus ternama tp kok gk kerja kerja,  saya lumayan bodo amat dg omongan orang tp kalau saya sendiri lebih cenderung gk betah nganggur tanpa kerjaan berasa hidup ini tidak ada manfaatnya, belum lagi gk enak sama orang tua udah lulus kuliah masak masih mau bergantung sama orang tua terus.  

    Akhirnya opsi terakhirnya, apapun dikerjakan selama itu halal,  jadi cenderung tidak pilih pilih kerja, pokoknya yg penting kerja.  Pun dengan saya, setelah lulus saya memilih mengerjakan beberapa hal untuk mengisi waktu tunggu str seperti mengajar les privat dan menjadi enumerator penelitian. 

      Waktu itu saya memilih untuk tidak bergerilya memasukkan banyak lamaran kerja seperti teman teman lain karena sudah terlanjur underestimate kalau tidak punya STR pasti ditolak, ini juga karena pengalaman awal saya mengajukan lamaran dan langsung ditolak karena blm punya str. 
    Sampai beberapa bulan kemudian setelah saya selesai tes ukni dan tinggal menunggu pengumuman diajak teman untuk mulai memasukkan lamaran kerja lagi, sayapun mau, beberapa tempat saya masukkan lamaran dan alhamdulillah Allah rejekikan saya dipanggil di salah satu klinik. Bersamaan dengan itu saya kembali mendapat panggilan tes dan interview di salah satu RS. Pada saat itu saya belum punya str dan belum dinyatakan lulus UKNI. 
       Waktu itu dr pihak RS meminta saya untuk menunggu pengumuman ukni untuk melanjutnya ke seleksi selanjutnya, hanya pengumuman yg penting sudah lulus tak mengapa blm ada STR,  Sementara dari pihak klinik qodarullah menerima saya bekerja walaupun blm lulus ukni dengan syarat kelulusan ukni dan STR dapat disusulkan. Awal bulan desember saya pertama kali mulai bekerja di klinik. MasyaAllah disaat teman teman lain masih dipusingkan mencari kerja Allah rejekikan saya bekerja lebih cepat beserta beberapa teman lain yg sudah mendapat kerja di tempat lain. 

      Saat itu semua syarat dari tempat kerja saya iyakan, karena dalam pikiran saya yg penting kerja dulu, diluar sana banyak yg sulit dapat kerja dan pihak klinik begitu baik karena saya diberi kesempatan bekerja meskipun belum mengantongi STR.  

        Tapi setelah menjalani beberapa bulan ada sesuatu yg menurut saya kurang pas. Saya resign karena ada alasan yg urgent dan ditambah ada rasa tidak nyaman dengan seragam yg saya kenakan yg menjadi pendukung saya untuk resign. Iya diawal saya sudah menyepakati aturan penggunaan seragam karena saking semangatnya mendapat kerja untuk pertama kali, tp ditengah bekerja ada yg membuat saya semakin tidak "srek" dengan pakaian yg saya kenakan.  

    Waktu itu tiba tiba terbersit dalam pikiran saya salah satu ayat Al Quran yang artinya "Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku" saya lupa didalam surat apa. Ayat itu sudah sering didengar sejak kecil tp entah mengapa saat ini ada rasa yg berbeda ketika mendengarnya. 

       Saya berpikir bahwa kalau tujuan hidup kita adalah beribadah mengapa setiap langkah kita tidak selalu mentaati aturannya, lalu ibadahnya disebelah mana?. Jika hakikat hidup adalah beribadah artinya setiap langkah kita seharusnya diniatkan untuk beribadah termasuk dalam bekerja yg artinya setiap gerak kita haruslah sesuai dengan aturannya. 
         Terbersit sedikit sesal dihati, mengapa Allah baru membuka hati saya untuk memahami ayat itu, kenapa gk dari dulu padahal usia sudah kepala 2.

    Akhirnya saya mulai mencari kerja dengan salah satu kriterianya adalah bisa mengenakan seragam yg menutup aurat secara sempurna dan tidak curang artinya tidak mengambil hak orang lain dengan memaksa diterima dengan menempuh apapun jalannya. Waktu itu saya dibantu teman saya memilah RS yg seragamnya bisa mengenakan rok dan jilbab yg menutup dada serta jujur dalam proses rekrutmennya. Dengan sebaris doa semoga dalam sulitnya mencari kerja tidak lagi "mendiskon" kriteria ini. 

      Beberapa RS sudah masuk daftar list salah satunya RSUA. Sejak kuliah memang saya ingin bekerja RSUA karena pandangan saya ketika mahasiswa disana mengelola pasien dengan penuh tanggungjawab (dengan beberapa perbandingan pelayanan di RS lain), karena menurut saya bekerja adalah sebuah amanah yg harus dipertanggungjawabkan di hadapanNya. 
      Kebetulan di RSUA memenuhi kriteria seragam yg saya inginkan dan proses rekrutmen yg jujur. Akhirnya dari beberapa pilihan RS saya hanya memasukkan lamaran ke RSUA. Waktu itu ada kerisauan dihati ibu saya kalau hanya masukkan satu lamaran saja bagaimana jika tdk diterima. Saya hanya katakan ke ibu saya untuk tidak khawatir bahwa rizki itu sudah diatur sang pemiliknya, kalau gk diterima tinggal cari ditempat lain dan doa saya waktu itu, kalau memang dengan bekerja di tempat ini dapat membuat saya lebih dekat dengan Nya maka mudahkanlah. 
          Mengutip dalam buku "Awe Inspiring Us" bahwa rizki itu bukan sandal jepit yang bisa tertukar, seperti jodoh yang juga tidak bisa tertukah *eh 😅
          Allah tidak akan mematikan kita jika belum memberikan seluruh hak kita didunia. Jadi tak perlu risau soal rizki karena semua telah ditetapkan dalam kitab lauhul mhfudz, tugas kita adalah ikhtiyar dengan jalan yang Allah Ridho. 

   Sampai saya menemui berbagai rintangan yg MasyaAllah begitu Allah memudahkan setiap langkah saya yg waktu itu tiba tiba sakit varicella (cacar air) yg tidak memungkinkan saya untuk kemana mana dan qodarullah saya mendapat panggilan di RSUA begitu saya sembuh dari sakit saya. Begitu pun Allah mudahkan dalam proses resign saya, pihak klinik yg sedari awal begitu baik kepada saya mengizinkan saya masuk di RSUA ditengah saya harus menyelesaikan sisa masa kerja saya dan memberi diskon jam kerja sesuai jam kerja saya di RSUA.  MasyaAllah. Selama 2 minggu Allah mudahkan saya untuk menunaikan tanggungjawab bekerja saya di 2 tempat. Prinsip saya diawal saya diterima dengan baik maka ketika mengakhirinya pun harus dengan cara yg baik meskipun harus melewati 2 minggu saya dari pagi hingga malam untuk menunaikan tanggungjawab bekerja.  

    Sebenarnya, salah satu tujuan saya memilih menjadi seorang klinisi juga karena takut kehilangan keilmuan saya, tidak dapat dipungkiri bahwa perawat ilmunya adalah ilmu practice sehingga seringkali terjadi kesenjangan antara pendidikan dan praktik. Namanya praktik jika tidak terbiasapun juga akan lupa, keahlian ini juga hanya bisa didapat di klinik tidak bisa dipraktikkan di rumah. Ahli atau tidaknya bergantung pada jam terbang. Kata guru SMA saya dulu "Alah bisa karena biasa", jika tidak biasa maka konsekuensinya adalah lupa. Jadi mau menjadi klinisi atau berkelut dalam teori semua itu pilihan kita masing masing. 

       Pertanyaan yg seringkali muncul, enak gk kerja di RSUA? Bagaimana gajinya? 
   Sedikit sharing, menurut saya enak tidaknya bekerja tergantung persepsi kita masing-masing, kembali kepada tujuan bekerja kita.  Kalau dibilang tuntutan tinggi menurut saya iya disana memang perawat dituntut banyak hal, melelahkan sudah pasti. Tapi yg selalu saya coba tanamkan dalam pikiran saya, dimanapun kita bekerja pasti akan ada tuntutannya meski dengan porsi yang berbeda. Saya pun manusia biasa yang tidak jauh dari mengeluh, tapi Allah sudah siapkan istighfar dalam setiap keluh. Jalani semampu kita menjalani, kembali kepada tujuan bahwa setiap langkah adalah amanah. Agar lelah menjadi lillah harus disertai dengan banyak bersyukur meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu cukup berat. Cukuplah Allah sebagai tempat bersandar. 
        Dimanapun kita bekerja pasti akan ada pasang surutnya, enak tidaknya. Salah satu enaknya di RSUA ini memberikan libur yang cukup banyak, dulu sebulan bisa sampai 13-14 hari libur meskipun saat ini telah ada pemangkasan libur 10-12 hari saja dalam satu bulan dengan pengaturan jadwal yang menurut saya cukup fleksibel. Tapi semua itu juga bergantung dari masing masing unit yang ditempati. 
        Selain itu, menurut saya enak tidaknya bekerja juga bergantung pada lingkungannya. Sejauh ini saya merasakan lingkungan yang cukup nyaman disini. 

      Lalu untuk gaji bagaimana?
     Saya tidak bilang gaji disini banyak tapi  juga tidak sedikit,  ya cukuplah menurut saya. Nah kriteria cukup setiap orang pun berbeda beda karena kebutuhan setiap orang juga berbeda. 

        Apakah saya tidak pernah mengeluhkan soal gaji?
     Seperti yg saya katakan sebelumnya, saya pun manusia biasa yang masih banyak keluhnya, kurang rasa syukurnya. Tapi tetap harus kembali ke tujuan, kriteria bekerja. Memberi manfaat sebanyak banyaknya, memandang gaji keatas tidak akan pernah cukup bagi kita, maka satu satunya cara dengan perbanyak rasa syukur dan amanah dalam bekerja, menjadikan bekerja bagian dari ibadah yang semata mata mengharap RidhoNya. 

Gaji banyak tapi tidak membawa kita dalam taat, lalu dimana tujuan hidup kita untuk beribadah?. Kecuali Allah beri kemurahan rizki dengan tetap membawa kita dalam taat, sesuatu yang tidak bisa ditolak hehe. 

Nah, untuk memilih pekerjaan tentunya kita memiliki kriteria tempat mana yg cocok untuk kita. Salah satu diantaranya adalah gaji. Tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan orang bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya salah satunya melalui gaji. Tapi perlu diingat itu adalah "salah satu" kriteria bukan "satu-satunya" kriteria. Tidak perlu terlalu tergesa gesa dalam menerima pekerjaan jika memang tidak sesuai dengan kriteria sebab kita tidak bisa seenaknya keluar masuk bekerja. Pahami segala aturannya, mampukah kita mengikuti aturan tersebut Setidaknya kita berpikir tentang bagaimana menyelesaikan kontrak dengan baik. Belajar dari pengalaman pertama saya bekerja yg akhirnya harus resign meski belum menyelesaikan masa kontrak.

          Yang perlu disyukuri dari menjadi seorang perawat adalah kita ini dikelilingi banyak malaikat, pekerjaan ini adalah perpanjangan dari "tangan" Allah. Jika dengan menjenguk orang sakit aja mendapat pahala yang berlipat ganda dan mendapat doa dari malaikat apalagi yang merawatnya.  MasyaAllah. 
   Setiap langkah kita adalah adalah amanah dari pemilikNya. Semoga setiap langkah kecil ini adalah langkah yang semata mata untuk meraih RidhoNya. 
        Sebaik baik manusia adalah manusia yg bermanfaat bagi manusia lainnya. 

       Kata Buya Hamka "Kalau sekedar hidup babi hutan juga hidup, kalau  sekedar bekerja kera juga bekerja".

     Jika yg kita kejar hanya dunia maka lelah bekerja tak kan ada artinya, materi yg kita dapatkan tidak akan pernah cukup sebab semakin tinggi penghasilan seseorang maka semakin tinggi pula kebutuhannya. 

    Kalau kata Dewi Nur Aisyah dalam bukunya "Awe Inspiring Us" buatlah setiap langkah dalam hidup kita untuk menebar sebanyak banyak kebermanfaatan dan setiap jalan yg kita pilih adalah jalan yang berada dalam RidhoNya.  

Wallahua'lam 

Terimakasih sudah membaca tulisan panjang ini. Semoga bermanfaat. 
Mohon maaf jika banyak kekurangan dan kesalahan dalam tulisan ini. Kritik dan saran diterima 🙏

Rabu, 20 Februari 2019

Dalam Bait Doa

Ku masih terus bertanya
Bolehkah aku menyebut namamu
Dalam lima waktuku, dalam dhuhaku
Juga dalam sepertiga malamku
Apakah kau izinkan aku?

Ku tanya padamu,
Masih bolehkah aku melakukannya?
Atau tak kau izinkan aku
Karena takut aku kecewa

Kecewa sebab semesta
Tak mendukung doaku jadi nyata
Ku masih bertanya padaNya
Dan belum kutemukan jawabnya

Atau aku yang tak pandai
Menerjemahkan petunjukNya
Bukankah dalam firmanNya
Dia ingin kita selalu meminta?

Rabu, 30 Januari 2019

Tentang Perasaan Ibuk

      Kali ini aku yg tidak memahami benar-benar tidak memahami. Masih soal pendamping hidup. Beberapa hari lalu sempat kuceritakan tentang bagaimana ibuk tiba-tiba membahas soal pasangan bahkan perjodohan, hal yang sama sekali tak pernah kesangka sangka, ibuk sudah memulai membahas itu. 

      Ya, selama ini aku menganggap ibuk diam tak pernah bertanya soal pasangan karena sepanjang aku tahu ibu tidak akan berbicara serius jika waktunya belum tepat (anak-anaknya belum masuk usia pernikahan).

      Ku dengan santai menanggapi obrolan ibuk. Pikirku ah mungkin ini memang sudah waktunya untukku, usiaku sudah cukup dan kupikir baru kali ini ibuk memikirkannya, sebuah permulaan ibuk memikirkan soal percintaan anak gadisnya. 

     Ah ternyata aku salah, benar-benar salah. Ku anggap sepele perasaan ibuk yg kupikir baru memulai.  
      Minggu kemarin ibuk mengajakku kondangan ke nikahan anak temannya di jombang, sepulang dari sana sepanjang perjalanan aku memejamkan mata tapi tidak tidur !
       Saat itu ibuk sedang bertelponan dengan budhe. Kudengar lamat lamat ibuk menyebut namaku. Ternyata akulah topik pembicaraan itu. Aku semakin memperkuat telingaku untuk mendengarkannya dengan mata tetap tertutup agar ibuk tidak tau bahwa aku mendengarnya. 

      Awalnya ibuk membahas tentang seorang laki-laki yang ingin diperkenalkannya kepada anak gadis budhe dan itu adalah ideku beberapa hari lalu saat bercengkrama dengan ibuk. Sebenarnya pada saat itu ibuk ingin mengenalkanku dengan laki-laki itu dengan maksud ingin menjodohkan. Aku kaget dengan pernyataan ibuk. Tapi aku menolaknya dengan halus agar ibuk tidak tersinggung. Penolakan itu tentunya bukan tanpa alasan. Dari cerita ibuk bahwa laki-laki itu memang sudah sangat siap untuk menikah, agar orangnya tidak sakit hati lalu aku memberi ide kepada ibuk untuk memperkenalkannya dengan saudara sepupuku, anak gadis budhe yg usianya jauh lebih tua daripada aku. Tujuan lainnya adalah agar ibuk tidak lagi menjodohkannya denganku hehe. Kupikir ibuk hanya sekedar mendengar ideku, tp ternyata ibuk benar benar melakukannya. Ibuk memberitahu budhe soal ini.

     Dan terjadilah saling telpon itu minggu kemarin, dan aku mendengarnya. Setelah pembahasan itu rupanya ibuk dan budhe saling curhat tentang anak gadisnya yang sama-sama belum menikah. 
     Ibuk menceritakan apa yang selama ini ada di hati dan pikirannya dan yg selama ini tidak aku pahami. 
     Ibuk bercerita pada budhe tentang aku yg memang belum memiliki pasangan bahkan tidak pernah membawa laki-laki (re pacar) datang ke rumah atau tak terdengar aku dekat dengan seorang laki-laki.
      Kata ibuk saat itu, selama ini ibuk sebenarnya memikirkan tapi tak mampu menanyakan kepadaku (ah ibuk, saat itu juga dalam keadaan mata terpejam air mataku perlahan jatuh). Dalam hatiku, bodoh sekali aku tak memahami ini. Kekhawatiran ibuk tentang anak gadisnya. 

      Ternyata selama ini aku dan ibuk sama sama ingin menjaga perasaan satu sama lain tp dengan cara yg berbeda
Ibuk tidak mengerti bahwa aku belajar menjauhi yg namanya pacaran, sehingga aku hanya bisa menerima dia yg datang untuk niat serius dan itupun ketika aku memang sudah merasa siap menikah. Aku memiliki prinsip tidak akan membawa laki laki ke rumah untuk kuperkenalkan pada ibuk jika memang belum benar benar serius, semua itu aku maksudkan agar jika terjadi suatu hal yg membuatku bersedih ibuk tidak mengetahuinya, aku hanya ingin ibuk terima bahagianya saja. Namun hal itu justru membuat ibuk khawatir karena yg ibuk tau aku tidak pernah dekat dengan laki laki manapun. 

Ibuk... 
Suatu saat akan kuceritakan semua yg terjadi pada anak gadismu, laki laki mana yg pernah mencoba mendekat dengan anak gadismu. Akan kuceritakan semua tentang mereka yang datang dan pergi, tentang mereka yang benar benar serius dan hanya ingin main main saja dan segala keresahan dan kegelisahan yg anak gadismu rasakan. Serta bagaimana aku begitu selektif dan berhati hati saat menjatuhkan pilihan meskipun pada akhirnya tetap saja gagal. 
Akan kuceritakan semua pada ibuk tapi tidak sekarang, aku butuh waktu  tapi pasti akan kuceritakan saat ikhlas sudah tertanam didalam hati dan tidak ada lagi perasaan yang tertinggal. Memang ikhlas adalah perkara yang paling berat, mudah diucap tapi masih ada yg tersisa dihati. Semua ini bukan untuk membuat ibuk semakin gelisah tp untuk membuat ibuk tenang bahwa anakmu mampu menghadapi semua. 

      Soal siapa jodoh anak gadismu yg saat ini sedang kau risaukan, tenanglah buk, aku hanya perlu doamu sebagai perantara yg paling mustajab dihadapan Allah. 
     Dan terimakasih atas segala usahamu demi memberi yg terbaik untuk anak gadismu ini.  

Minggu, 28 Oktober 2018

Culture Vs Modernisasi

      Indonesia memiliki banyak sekali budaya yang menjadi peninggalan dari nenek moyang. Sudah menjadi sebuah konsekuensi jika kita tinggal di negeri yang kaya akan budaya ini maka kita harus mengikuti berbagai macam tradisi yang telah berkembang beratus ratus tahun lamanya. Merubah sesuatu yang telah tumbuh dan berkelmbang di masyarakat sungguh tidaklah mudah, sebab akarnya begitu kuat dan tidak mudah untuk dicabut.
      Berbicara culture di era saat ini tidak terlepas dari modernisasi atau mengikuti perkembangan zaman yang saat ini memasuki era modern, segalanya serba cepat dan mudah. Bagi yang tidak bisa mengikuti maka akan tertinggal. Saat berbicara modernisasi seringkali yang muncul di benak masyarakat adalah sebuah hal yang negatif, akulturasi budaya barat yang tidak sesuai dengan kita bangsa timur yang telah meneladani adat ketimuran. Padahal modernisasi bukan hanya soal budaya barat yang memiliki makna negatif. Apa yang kita nikmati saat ini seperti ilmu dan teknologi adalah bagian dari modernisasi. Setelah menikmati perkembangan zaman ini, siapa yang ingin kembali ke masa lalu dengan keterbatasan ilmu dan teknologi? Saya rasa tidak ada, kita terlanjur nyaman dengan apa yang berkembang saat ini.
       Jadi, untuk dapat selalu menikmati modernisasi dengan positif kita harus selalu open mind dan berfikir kritis, tidak semua modernisasi adalah buruk. Bahkan bukan hanya modernisasi yang harus banyak dikritisi pun dengan budaya yang berkembang. Saat kita sebagai generasi muda berhadapan dengan mereka yang telah berusia senja dan berbalut tebalnya pengalaman,  berbicara tentang budaya maka kita lah yang harus selalu mengikuti apa yang telah menjadi keyakinan mereka. Saat kita menentang, maka mereka akan memberikan berbagai macam alasan bahwa kita dibesarkan dari sebuah budaya. Kita dapat tumbuh dan berkembang dari sebuah budaya dan nyatanya semua baik-baik saja. Sulit memang ketika berhadapan dengan hal semacam ini.
        Dalam hal ini sungguh tidak bermaksud untuk mematahkan budaya yang sudah menjadi ciri khas dan kekayaan bangsa, namun disini saya hanya ingin sedikit sharing tentang budaya yang patut dipertahankan dan budaya yang sepatutnya mengikuti perkembangan zaman. Jangan sampai budaya memenjarakan kita dalam ketertinggalan meskipun tidak semuanya seperti itu. Seperti contohnya sebuah ilmu yang kian lama kian berkembang, tentu saja kondisinya berbeda dengan masa lampau.
    Ketika kita telah berkesempatan menimba ilmu yang kian pesat berkembangnya ini tentu saja saat memperolehnya kita ingin menyampaikan dan menyebarkan yang sudah kita dapat, namun nyatanya sulit ketika berhadapan dengan masyarakat yang ditamengi oleh budaya masa lalu. Lalu untuk apa mereka menginginkan generasi muda belajar setinggi tingginya jika setelah kita meraihnya mereka tidak percaya dengan kita. Masih menggunakan dalil lama dan berlindung dari kata “dulu seperti ini dan baik – baik saja”.
        Bahkan katanya kita yang terlalu sok tau padahal baru belajar segitu saja, belum makan asam garamnya kehidupan.  Hal ini adalah tantangan besar, sebab kita tinggal ditempat dimana kita harus menghormati yang tua, tidak boleh membantah. Namun hal itu jangan sampai membuat kita patah semangat dalam menyampaikan kebaikan.
       Kita harus paham bahwa budaya ada yang harus dihargai, dijunjung tinggi dan dipertahankan namun ada juga budaya yang setelah kita menjadi manusia yang berkembang karena ilmu, budaya itu harus dikritisi bahkan ditinggalkan. Bukan bermaksud menyombongkan ilmu yang baru seujung kuku namun dalam agama islam kita diajarkan bahwa “sampaikan ilmu walau hanya satu ayat” (HR Bukhari). Sekecil apapun yang kita tau kita harus menyampaikan. Termasuk dalam hal merubah budaya yang sudah tidak sepatutnya dilakukan.
        Jika dikatakan dulu melakukan ini nyatanya baik baik saja. Perlu kita pahami bahwa dunia ini telah berubah, gaya hidup manusia telah berubah, pola pikir telah berubah bahkan alam pun juga berubah. Dulu polusi masih sedikit, saat ini polusi dimana mana, penyakit jauh lebih banyak. Apa kita mau tetap menjadi manusia jaman dulu, penyakit saja sudah bereplikasi apa iya kita masih mengikuti budaya lama saat penyakit masih segitu segitu saja?. Tentu saja kita tidak boleh kalah dari penyakit, kita harus berkembang dengan keilmuan yang juga semakin luas berkembang, bukan menutup diri dan berpatokan pada masa lalu. Sungguh masa lalu itu adalah pembelajaran namun bukan berarti kita menutup diri dengan peradaban. Itu adalah contoh ketika berbicara tentang ilmu kesehatan.
        Bukan hanya dalam bidang kesehatan yang dipengaruhi oleh budaya, masih banyak lagi bidang lainnya dalam kehidupan sehari-hari yang masih terkungkung budaya lama sehingga sulit berkembang. 
       Katanya generasi muda adalah penggerak perubahan menuju peradaban yang lebih baik, menjadikan negara semakin maju, bagaimana negara mau maju jika masyarakatnya yang belum bisa move on dari masa lalu dan menolak ilmu-ilmu baru yang sudah dapat dipastikan keabsahannya?.
    Tidak semua budaya buruk dan membuat kita tertinggal, masih banyak budaya sebagai warisan nenek moyang yang patut kita lestarikan hingga saat ini, yang bisa kita lakukan adalah pandai-pandai dalam memilah. Budaya mana yang masih patut kita ikuti dan budaya mana yang memang harus ditinggalkan.
         Kita hidup dengan aturan, ada aturan agama yang tidak akan berubah sekalipun zaman berubah yang dapat menjadi pegangan hidup manusia. Selain itu ada norma di masyarakat yang nilai-nilainya telah diyakini kebenarannya kemudian ilmu dan teknologi yang berkembang yang sepatutnya kita sebagai manusia yang dianugerahi akal pikiran mampu menerima dan mengikuti ilmu dan teknologi yang telah diakui kebenarannya.
       Jadi, hargai budaya yang memang tidak bertentangan dengan agama, norma, ilmu dan teknologi. Namun jangan ragu menyuarakan kebaikan jika memang budaya itu bertentangan dengan nilai agama, norma, ilmu dan teknologi. Sehingga cuture dan modernisasi dapat berjalan seirama tanpa menimbulkan perpecahan.
      Dan yang tak kalah penting, sampaikan kebenaran dengan cara yang baik dan sebijaksana mungkin agar mendapat penerimaan yang baik pula. Saling menghargai bukan berarti memaklumi sesuatu yang salah dan bertentangan.


Salam cinta dari  anak muda yang masih perlu banyak belajar 😊

Senin, 22 Oktober 2018

Dia Bukan Pelarian

Kukatakan bukan
Dia bukan pelarian
Dia cinta
Dia sesungguhnya cinta

Tak pernah surut
Selalu berpendar

Dia ada
Kapan saja ada
Dan selalu ada
Tak pernah tiada

Dia menemani
Selalu disini
Tak pernah pergi
Tak biarkan ku sendiri

Aku yang datang dan pergi
Datang saat bersedih
Pergi saat datang pelangi
Dan selalu berharap Kau ampuni

Oh Sang Mahabaik
Kau peluk tanpa harus merintih
Kau dekap tanpa harus meratap
Aku makhluk yang tak tau adab

Tuntun aku
Kembali padaMu
Tanpa pergi
Tanpa lari... lagi.

Ku katakan
Dia bukan pelarian

Selasa, 19 Juni 2018

Paradigma Istri Soleha dan Memasak


Sejak kecil aku tinggal di keluarga yang memandang bahwa perempuan itu harus mengerti tentang dapur sekalipun dia itu adalah orang berpendidikan. Baginya pekerjaan dapur adalah benar-benar kewajiban bagi seorang perempuan dan tidak boleh ditinggalkan. Ketika usia SD aku tinggal dengan nenekku beliau sudah memperkenalkanku dengan dunia dapur, meski pada akhirnya aku lebih suka bermain dengan teman sebayaku. Pada saat itu ada satu pesan nenekku yang paling aku ingat karena beliau selalu mengulang-ulang pesan itu, katanya “nanti kalau tinggal sama orang tuamu dan kamu tidak bisa masak dikira mbahnya tidak pernah mengajari”. Usia yang terlalu dini untuk menghiraukan pesan itu, tapi rekaman memori anak usia SD begitu baik dan membekas.
Hingga pada suatu hari saat aku duduk dibangku SMP aku membaca sebuah artikel tentang “istri soleha”, didalam artikel itu dituliskan katanya istri soleha itu bukan yang bisa membedakan mana jahe dan mana kunyit (dalam kata lain bukan yang bisa memasak) tapi istri soleha itu adalah dia yang bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram untuk kemudian memastikan bahwa makanan yang diberikan kepada keluarganya adalah makanan yang halal dan toyib. Seketika itu aku merasa cocok sekali dengan artikel itu dan tertanam dalam pikiranku. Sekian lama aku berpegang teguh pada prinsip itu, prinsip yang dipengaruhi oleh artikel itu bahwa perempuan tidak harus bisa memasak yang penting mengerti mana yang halal dan haram serta patut untuk diberikan pada keluarganya.
Well, pada suatu hari aku sudah tinggal dengan orang tuaku, saat itu aku duduk dibangku SMP. Ibuku pun memiliki prinsip yang sama dengan nenekku bahwa perempuan itu harus mengerti dunia dapur. Ibuku adalah seorang wanita karir yang hampir setiap hari bekerja di kantor, setiap pagi sebelum berangkat bekerja beliau selalu menyempatkan untuk memasak untuk kami sekeluarga, apalagi di hari libur akan ada surga makanan di rumah. Setiap libur sekolah ibuku selalu menuntutku untuk membantunya memasak. Kadang memasak itu memang menyenangkan tapi kadang juga membosankan bagi anak usia SMP sepertiku apalagi saat itu masih tertanam dalam pikiranku bahwa istri soleha itu yang bisa membedakan yang halal dan haram tidak harus bisa memasak.  
Aku memiliki orientasi yang tinggi terhadap pendidikan, bagiku urusan sekolah itu nomor satu, yang lain menyusul setelah urusan sekolah selesai termasuk dalam hal urusan rumah. Aku ingat pada saat itu aku memancing amarah ibuku dan beliau mengatakan bahwa sekalipun perempuan itu pintar dalam hal akademik tapi juga harus pintar dalam hal mengurus rumah. Baginya hampir tiada artinya jika perempuan itu hanya pintar dalam hal akademik tapi tidak pandai dalam hal mengurus rumah yang salah satunya adalah memasak.
Saat aku duduk dibangku SMA, kegiatan di sekolah semakin banyak dan aku semakin sibuk dan jarang di rumah apalagi memikirkan tentang memasak hampir tidak terbersit dalam benakku, namun ketika aku di rumah ibuku selalu berusaha melibatkanku ketika memasak. Ketika itu pemikiranku sudah sedikit berubah, aku mau memasak saat memiliki waktu luang. Tapi, prinsip halal dan haram masih tertanam kuat dalam pikiranku. Hingga suatu hari saat aku dan ibuku sedang memasak bersama tiba-tiba ibuku bilang “Perempuan itu harus bisa memasak, besok-besok kalau punya mertua dan kamu tidak bisa memasak dikira ibunya tidak pernah mengajari”. Ah aku tertegun mendengar ibuku mengatakan itu, kata-kata itu pernah diucapkan nenekku dulu hanya sedikit berbeda konteks. Ternyata nenekku dan ibuku memiliki pemikiran yang sama dan aku yakin mereka tidak janjian untuk mengatakan itu padaku. Aku lupa bilang, mengapa nenekku dan ibuku selalu berpesan seperti itu padaku, menurut pandanganku karena kebetulan baik aku maupun ibuku adalah satu-satunya anak perempuan didalam keluarga jadi tidak ada lagi yang dituntut untuk bisa memasak selain kami hehehe.
Sampai aku duduk dibangku kuliah aku belum memiliki minat yang tinggi terhadap memasak, baru sekedar mau jika memiliki waktu luang. Aku belum memprioritaskan memasak dalam keahlian yang harus aku miliki. Memasak sih bisa tapi rasa masakannya masih begitu-begitu saja, menakar bumbu pun masih belum bisa mengira-ngira bahkan terkadang lupa apa saja bumbunya karena memasak tidak menjadi rutinitas. Sampai saat ini prinsip halal dan haram masih menancap kuat dalam pikiranku, bagiku pengetahuan tentang hukum agama yang perlu di upgrade, urusan bisa masak atau tidak itu belakangan. Toh jaman sekarang anak seusiaku banyak yag tidak bisa memasak bahkan rasanya skill memasakku masih mendingan daripada kebanyakan teman sebayaku yang tidak pernah merambah dunia dapur. Mungkin pemikiran ini yang hingga sekarang membuat memasak tidak menjadi sebuah keutamaan.
Diakhir masa kuliah, aku sudah semakin jarang memasak tidak seperti dulu yang hampir setiap minggu selalu membantu ibuku memasak meskipun belum bisa untuk dilepaskan memasak sendiri. Rasanya memasak itu seperti quality time bersama ibuku karena kesibukan yang saat ini mendera. Sampai pada suatu hari saat kami sedang memasak bersama, ibuku banyak bercerita dan tidak biasanya ibuku seperti itu. Ibuku banyak menasihatiku tentang pernikahan dan mengurus rumah tangga salah satunya tentang memuliakan dan menyenangkan hati mertua dengan cara menengok dan memasakkan makanan untuk mertua. Kata-kata ibuku saat itu benar-benar menggetarkan hati dan membuatku instrospeksi diri.
Di usiaku saat ini banyak cerita-cerita tentang pernikahan yang aku dengar dari orang-orang terdekat, meskipun aku belum menikah tapi aku banyak belajar dari cerita-cerita yang aku dengar. Dari berbagai cerita yang aku dapat ternyata mengurus rumah tangga itu tidak semudah yang dibayangkan dan terkadang permasalahan kecil bisa menjadi besar. Persoalan makananpun bisa menjadi pemicu pertengkaran. Apalagi mendengar cerita menantu dan mertua yang tidak akur hanya karena persoalan memasak.
Dari pesan ibuku dan cerita-cerita orang-orang disekitarku, akupun berpikir bahwa memasakkan suami dan mertua itu bisa menyenangkan hatinya. Bukankan menyenagkan hati orang lain itu juga bagian dari ibadah. Ternyata membahagiakan keluarga sesederhana itu. Dan akhirnya aku menyadari bahwa istri soleha itu bukan hanya yang bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram untuk keluarganya tetapi menyenangkan hati keluarga yang salah satunya dengan memasak itu juga rentetan dari yang disebut seorang istri soleha.
Pendewasaan itu merupakan sebuah proses, pembelajaran bukan hanya didapatkan dari bangku sekolah namun pada hakikatnya sepanjang perjalanan hidup adalah belajar, tentang apapun itu.
Semoga Allah selalu memudahkan langkah kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Jangan dilihat siapa yang menulis tapi ambil hikmah dari isi tulisannya.

Sebab si penulis juga belum pandai memasak dan belum menjadi seorang istri apalagi istri yang soleha. 

Jumat, 25 Maret 2016

Pemegang Amanah Rakyat
Oleh : Dewi Permata
sumber : https://www.google.co.id

Lihat aku…
Bukan sebagai petinggi negri
Bukan penguasa kerajaan ini
Bukan pula pemilik tahta ini
                                                            Dengar aku…
                                                            Dengar aku sebagai rakyat jelata
                                                            Secuil dari nurani negri yang kau pimpin
                                                            Yang hanya mampu melihat dan mendengar
                                                            Tanpa mampu mengungkap dengan bebas
Lihat dan dengarkan mereka…
Hati yang pernah kau gores dengan janji
Pikir yang pernah kau tulis dengan harap
Tubuh yang pernah kau pupuk dengan mimpi
                                                            Kata – katamu tlah berlalu menjadi abu
                                                            Rintik kecil yang membekas di tanah ini
                                                            Aku masih mencari letak kesungguhanmu
                                                            Dimana aku akan menemukan yang kau janji?
Sebab akulah hati kecil yang kan kau bawa
Mengarungi negri dibawah kaki tanganmu


Kamis, 14 Januari 2016

Sahabat, Aku Rindu

Sumber Gambar : google.com
         
Hi Dear,
Andaikan aku tau akhirnya akan seperti ini, aku akan lebih memilih untuk tidak pernah jatuh cinta. Ya, pada saat itu segalanya memang terasa indah. Tapi bagaimana dengan hari ini?. Tidak ada yang bisa dikatakan baik – baik saja, karena memang tidak baik – baik saja.
Andaikan aku tau akhirnya akan seperti ini, aku tidak akan pernah memberi sebingkai hatiku untukmu. Membelai lembut jalan takdir yang sungguh tidak mudah. Mendaki mimpi yang dulu pernah kita rangkai bersama, berharap akan selalu bahagia bersama.
Dulu, kita pernah saling membahagiakan, pernah saling memberi rasa. Jauh sebelum aku mengenal rasa itu, aku telah lebih dulu mengenalmu sebagai seorang sahabat yang baik. Hingga pada akhirnya, rasa itupun hadir diantara kita.
Dear, aku rindu…
Bukan rindu saat kita sama – sama saling memberi rasa, tapi aku rindu saat kita bisa bersahabat dengan baik. Bebas bercanda, bebas ngata – ngatain, bebas tertawa lepas, bebas kemana – mana bersama dan bebas saling curhat tentang masalah kita masing – masing. Aku rindu saat kita sama – sama saling mendengar, saat bercengkerama dengan begitu akrabnya… tanpa beban. Aku rindu saat kita turut bahagia ketika salah satu dari kita menemukan belahan jiwanya dan mendengar saat salah satu dari kita sedang patah hati.
Begitu menyedihkan jika akhirnya harus seperti ini, kehidupan kita nampak begitu berjarak, kita memang jauh, tidak pada tempat yang sama, namun dengan segala kemudahan teknologi segalanya bisa nampak di depan mata. Namun, seolah kita tak melihat, seolah kita tak mendengar, seolah salah satu dari kita tak ada disana.

Aku iri dengan mereka yang mampu mengembalikan suasana. Saat mereka tidak lagi saling jatuh cinta, semua dapat kembali seperti sebelum mereka saling membahagiakan. Aku ingin seperti itu, mengembalikan keadaan seperti sebelum kita sama – sama saling membahagiakan, dan sama – sama saling memberi rasa. Ya seperti saat kita mampu menjadi sahabat yang baik, melupakan segala kenangan manis dan segala kepahitan yang pernah kita lalui bersama. Biarkan semua mengalir dan biarkan kita bahagia dengan jalan yang tlah kita pilih. Bersama kembali dengan ikatan persahabatan yang sudah lama kita lupakan. 

Jumat, 30 Oktober 2015

sumber gambar : www.google.com

KU TAHU MEREKA RINDU
Oleh : Dewi Permata
Ku tahu mereka rindu
Menyatu dalam tawa
Menangis dalam haru
Bercengkerama dilangit senja

Ku tahu mereka hanya merindu
Dalam protes kecil saat jumpa
Meminta sejenak detikku untuknya
Untuk sekedar melantun suara bersama

Ku tahu mereka begitu rindu
Dalam amarah yang terbawa
Dalam tawa yang sedikit terlupa
Dalam hati yang membawa rasa

Ku tahu mereka rindu
Ku tahu mereka hanya merindu
Ku tahu mereka begitu rindu
Untuk memeluk hangat sang waktu


Sidoarjo, 30/10/15

Sabtu, 22 Agustus 2015

Rindu



sumber gambar : www.google.com


Kau adalah orang yang penuh kasih
Ikhlas mengajari setiap langkahku
Tetap berjuang meski harus tertatih
Sungguh aku sangat mengagumimu

Kau pelindung saat rasa takut hadir
Kau pelindung saat gundah melanda
Entah, kau bagai peri cantik untukku
Sungguh aku sangat menyayangimu

Ketika setiap kebaikan sulit diungkap
Begitu juga dengan  cinta yang besar
Rasa kasih yang seolah tanpa celah
Menerima dan mendengar tanpa cela

Sungguh kau orang yang selalu ku rindu
Rindu kehadiran dan kenangan indah
Rindu senyum, salam dan kehangatan
Rindu segalanya yang membuat indah

Sayang, mungkin kau kecewa padaku
Pada adikmu yang tak sesuai inginmu
Hingga segala rasa  menjadi angin lalu
Dan tak peduli dengan sulitnya aku

Menyakitkan memang
Menyedihkan memang
Kecewa sudah tentu
Hanya tangis dalam hatiku

Mengapa kau lakukan itu?
Hormatku tak luntur setitikpun
Mengapa kau hapus kasihmu?
Sayangku tak pudar sedikitpun

Inilah nila dalam susu
Merusak segala – galanya
Semua yang terjalin baik
Harus terputus begitu saja

Aku rindu cintamu
Aku rindu kasihmu
Rindu semua tentangmu
Tentangmu yang dulu

Kamis, 02 April 2015

Aku Rindu


Tuhan, Aku rindu…
Rindu berlinang air mata diatas sajadahMu
Aku rindu menengadahkan tanganku padaMu
Membasahi penutup auratku dengan tangisku

Tuhan, Maafkan aku…
Maafkan segala keluh dan juga kesahku padaMu
Ampuni setiap dosaku  yang tak pernah usai
Bertambah dan terus bertambah setiap waktunya

Tuhan aku merindukanmu dalam baris doaku
Aku mengerti, aku tak pernah setia padaMu
Aku hanya hadir saat aku membutuhkanMu
Lalu imanku lumpuh saat kau kabulkan inginku

Aku datang saat aku memiliki hajat besar dihidupku
Aku bermohon padaMu saat masalah datang menimpaku

Tuhan, Aku rindu padaMu
Tuhan , Maafkanlah hambaMu
Tuhan, Peluklah aku dalam kasihMu
Tuhan, Tuntunlah aku hidupku.


Minggu, 15 Februari 2015

keluarga inspirasiku

Dan setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Setiap awal pasti akan ada akhir, semua akan sampai pada masanya. Meski demikian hanya nama saja yang berakhir masa aktifnya tapi tidak untuk cinta dan keluarga, semua tak akan pernah lekang meski waktu telah menyampaikan batasnya. Semua akan berubah menjadi sebuah cerita dan sejarah di masa lalu yang mampu untuk dikenang sampai kapanpun.
Mereka adalah orang – orang luar biasa, member warna dalam satu tahun yang lalu. Ada suka duka canda dan tawa di rumah kecil kami. Saling memeluk dan menguatkan, saling mengingatkan saat lupa, ada yang meghapus air mata ketika ia jatuh berlinangan, bersedia mendengar meski letih sudah menjalar. Saling memaafkan dan menutupi kekurangan.
Kami yang pertama layaknya orang asing yang dikumpulkan dalam rumah kedamaian hingga waktu membawa kami menjadi sebuah keluarga. Saling memperkenalkan tentang apa yang belum pernah diketahui, belajar tentang loyalitas, kesetiaan dan keikhlasan. Bahagia ditengah mereka orang – orang yang luar biasa penuh inspirasi. Berjuang meski banyak waktu terkorbankan, tepukan tangan riuh untuk hasil sebuah perjuangan. Tak hanya mengabdi didalam, suatu ketika kitapun perlu untuk merehatkan sejenak segala pikiran. Melepas lelah bersama menikmati seteguk keindahan kota Surabaya. Menulis kenangan dan mengumpulkan segala pengalaman yang menggelitik dan tak terlupakan.
Kini saatnya keluarga inspirasi ini berganti masa. Terimakasih kakak – kakakku yang sudah setia membimbing, berbagi ilmu, mengayomi dan menyayangi. Terimakasih rekan – rekanku, sahabat – sahabatku, saudara – saudaraku atas support dan kerjasamanya selama ini. Terimakasih keluargaku. Terimakasih untuk satu tahun yang telah kita lewati bersama, terimakasih untuk pembelajaran yang sangat berharga dan untuk kenangan yang luar biasa.

Terimakasih Keluarga Inspirasi BEM FKp 2014, terimakasih keluarga kecilku yang luar biasa Departemen Sosial 2014. Semoga kita tetap menjadi keluarga sampai kapanpun.
farewell BEM FKp 2014

keluarga sosialita

depsos tercinta

depsos 2014

keluarga inspirasi BEM FKp 2014

BEM 2014 
depsos tercinta :3

Sabtu, 07 Februari 2015

next trip :)

Welcome to my holiday. Saatnya saudaraku Putri dan Sita pulang ke Jogjakarta. Akupun tak melewatkan kesempatan ini. Aku turut bersama mereka ke Kota Gudeg Jogjakarta. Dari Sidoarjo kami naik kereta logawa turun di stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Rencana awal sih mau ketemu temanku Carla yang sedang berlibur di rumah neneknya di Klaten Jawa Tengah. Kita mau jalan – jalan ke Candi Prambanan. Sudah dari SMP aku ingin mengunjungi Candi Legenda Roro Jonggrang itu. Entah apa yang memikat hatiku hingga ingin sekali aku kesana namun hingga saat ini belum kesampaian. Setiap kali kesana selalu saja gagal ada saja yang membuat rencanaku batal, dan kali ini, lagi – lagi gagal lagi, sedih deh. Aku hanya memiliki kesempatan sehari bertemu dengan Carla pada tanggal 1 Februari karena dia sudah harus kembali ke Sidoarjo tanggal 2. Eh mungkin belum takdirku ke Candi itu, di rumah saudara Carla ada acara pengajian dan Carla membatalkan rencana kami.
Finally, aku menginap di rumah Putri dan bermain ke rumah saudaraku yang lain yang ada di Jogjakarta juga. Putri mengajakku berkeliling Jogjakarta, tujuan awal kami ke Alun – Alun Kidul Jogjakarta yang tak jauh dari rumahnya. Disana ada pohon beringin yang sudah terkenal. Mitosnya jika menutup mata dari ujung dan berjalan kearah pohon beringin jika kita dapat berjalan lurus maka keinginan kita akan terkabul. Namun, aku tidak mencobanya karena menurut saya hal seperti itu sesuai pada keyakinan masing – masing. Kami hanya duduk menikmati ramainya Alun – Alun Kidul sambil menikmati wedang ronde khas Jogjakarta. Ini pertama kalinya aku menikmati wedang ronde, awalnya ragu karena kuah ronde terbuat dari jahe. Maklumlah saya tidak menyukai kuliner rasa pedas dan mint hehe. Tapi saat mencoba wedang ronde ini, rasanya hmmm cukup menggugah selera, saya suka dengan isinya yang beraneka ragam hanya tidak bisa menghabiskan kuahnya saja karena rasa mint.
Esoknya, saya diajak ke sandmor (Sunday Morning) di perbatasan jalan kampus UGM dan UNY. Namanya Sandmor karena memang hanya ada saat minggu pagi saja. Sandmor ini sejenis pasar kaget yang menjual beraneka ragam mulai dari makanan hingga pakaian. Malamnya sebenarnya saya sudah ada janji dengan teman kuliah saya Rosi yang berasal dari Jogjakarta. Namun sayang, waktu yang kami pilih ternyata diguyur hujan. Sayang sekali karena besoknya saya sudah harus berlanjut ke rumah nenek saya di Purworejo Jawa Tengah.
Sebelum ke rumah nenek saya, pagi hari saya diajak putri ke kampusnya di Universitas Gajah Mada.  Saya diajak keliling Universitas ternama ini dan wow kampusnya sangat besar dan terlihat seperti tidak ada ujungnya. Menurut saya ini lebih besar dari kampus ITS di Surabaya dan lebih besar dari kampus saya sendiri Unair jika tiga kampus dijadikan satu. Kampusnya seperti terpisah oleh jalan raya namun itu tetap milik UGM sendiri. Dijamin capek kalau lari keliling UGM hehe. UGM juga punya Rumah Sakit seperti Unair namun saat ini Rumah Sakit tersebut sudah menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Jogjakarta. Rumah Sakit ini memiliki jembatan penghubung ke Fakultas Kedokteran UGM yang mempermudah Mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM jika menuntut ilmu di Rumah Sakit.
Sebelumnya saya sudah berjanji untuk menceritakan lalu lintas kota Jogjakarta yang sangat berbeda sekali dengan Surabaya. Saya benar – benar membuktikan kata – kata saudara saya yang mengatakan betapa tertibnya lalu lintas kota Jogja. Saya benar – benar tidak menjumpai pengendara yang berhenti di depan zebra cross saat lampu merah, sayapun juga tidak mendengar suara bising klakson seperti di Surabaya. Dan yang paling penting disini jauh dari kemacetan. Hanya beberapa titik dekat kompleks Kampus saja yang sering terjadi kemacetan. Meskipun Kota Besar, Jogjakarta ini masih kental dengan nuansa tradisional, tidak banyak gedung – gedung tinggi pencakar langit seperti yang dikatakan saudara saya ketika di Surabaya. Bangunan disini lebih kental dengan suasana tradisional meskipun sudah banyak juga yang sudah modern. Nama jalan disini juga masih menggunakan bahasa kejawen alias ke jawa jawaan yang notabene merupakan nama Keraton Jogjakarta yang tak jauh dari rumah saudara saya.
Lanjut siang harinya kami langsung berangkat ke rumah nenek kami di Desa Lubang Indangan, Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo yang merupakan tempat dimana saya dibesarkan. Dari Jogjakarta kami membutuhkan waktu dua jam untuk dapat sampai ke rumah nenek kami dengan mengendarai sepeda motor. Saya disambut gembira oleh kakek saya yang sudah menunggu sejak saya berangkat dari Sidoarjo. Sayapun menyempatkan bertemu dengan sahabat saya yang sudah menemani saya dari kecil hingga sekarang kami terpisah karena saya tinggal di sidoarjo. Namanya Erni, dia adalah sahabat sepanjang masa bagi saya. Pertemanan kami tidak putus meski saya sudah pindah ke Sidoarjo sejak kelas 2 SMP.
Tak banyak yang saya lakukan di tempat ini, ya saya hanya menikmati suasana pedesaan di tempat nenek saya tinggal dan mengunjungi saudara saya yang masih terjangkau oleh saya. Maklum disini saya tidak ada kendaraan untuk mondar – mandir. Dari Kotanya pun jauh. Saya menyempatkan ke Rumah Budhe saya yang tak jauh dari rumah nenek saya sebenarnya saya dan Putri ingin berkuliner siomay khas daerah sini yang rasanya tidak terkalahkan dengan siomay di sidoarjo. Siomay disini seperti pentol namun berukuran besar. Namun, sayang kami kurang beruntung, siomay langganan kami sedang tidak berjualan. Sayapun mengajak Putri ke rumah Budhe saya yang tak jauh dari tempat penjual siomay. Saya larut dengan cerita Budhe saya saat saya masih kecil dan turut di rawat Budhe saya dan selalu tidak ingin berpisah dengan beliau. Beliaupun merupakan salah satu orang yang berjasa dalam hidup saya saat saya tinggal di rumah nenek saya. Saya juga memiliki sepupu yaitu anak dari Budhe saya yangsewaktu kecil bergantian saya yang ngemong sampai tidak mau ditinggal oleh saya. Persis seperti saya dan ibunya dulu. Namun, sejak saya pindah di Sidoarjo usianya sekitar 3 tahun dia sudah mulai lupa dengan saya dan setiap bertemu selalu malu dan tak seperti dulu lagi. Sekarang dia sudah duduk di bangku kelas 4 SD.
Disini yang tak pernah terlupakan adalah kali / sungai di dekat rumah nenek saya yang sampai saat inipun saya tidak mengetahui namanya. Dulunya kali ini airnya jernih pemandangannya bagus. Masih terlihat hitamnya pasir saat menyeberanginya. Dari tanggul Nampak pemandangan gunung – gunung yang berjajar, apalagi saat pagi dan sore hari menambah indahnya pemandangan Kali ini. Bagi yang mengetahui legenda tangkuban perahu, gunungnyapun terlihat dari tanggul yang mengapit Kali ini. Kali ini diapit dua tanggul, tanggul sebelah timur membatasi Kali dengan pemukiman penduduk dan sebelum pemukiman ada sebuah Kali kecil yang memperindah pemandangan Desa ini. Di sebelah barat, tanggul membatasi Kali dengan sawah penduduk yang luasnya sangat luas sekali dan sayapun belum pernah mengukurnya hehe. Sebelum sawah juga dibatasi dengan Kali kecil sama seperti pemukiman penduduk. Disana banyak sawah nenek kami dan warga setempat, namun kakek dan nenek saya sudah tidak pernah mengurus sawahnya lagi karena usianya sudah sepuh. Sawahnya di buruhkan ke orang lain untuk mengurusnya. Sayangnya Putri, pulang terlebih dahulu meninggalkan saya di rumah nenek atau yang sering saya panggil simbah.
Terlalu banyak kenangan di Desa ini, banyak yang sudah berubah dari Desa ini. Dulu waktu saya kecil, anak – anak seusia saya masih banyak disana sini bermain berbagai permainan tradisional. Namun saat ini sudah sepi tak lagi seperti dulu. Kawan – kawan saya yang masih sering berjumpa hanya Erni saja karena yang lain sudah merantau keluar dari Desa ini. Erni sendiri juga kuliah di Jogjakarta namun masih sering pulang ke rumah. Di desa ini tinggal orang tua – tua saja, sepertinya generasi penerusnya sudah merantau mengais rejeki di kota – kota besar sana. Teman – teman seusia sayapun disini sudah banyak yang menikah dan memiliki anak. Padahal saya rasa usia saya yang akan menginjak 20 tahun ini saya masih seperti anak remaja yang masih belum bisa hidup mandiri mengurus rumah tangga. Saya masih menikmati masa – masa remaja saya dengan menuntut ilmu dan bermain dengan teman – teman saya.
Semoga kedepan Desa tempat saya dibesarkan ini dapat semakin maju dan simbah saya juga dapat diberi keberkahan usia yang panjang dan kesehatan sehingga dapat melihat cucu cucunya besar dan menjadi orang yang berhasil serta membanggakan hingga saya dapat membalas budi baik beliau yang telah membesarkan saya dari bayi.
Sayangnya, saya tidak bisa ke rumah nenek saya yang satunya yang tinggal di daerah pegunungan di Desa Kali Jering Kecamatan Pituruh yang pemandangan alamnya lebih luar biasa lagi. Kalau teman – teman memandang mendaki gunung adalah hal yang luar biasa, bagi saya itu biasa saja karena setiap tahun saat lebaran tiba saya dan keluarga selalu mendaki gunung dengan jarak sekitar 3 km dengan berjalan kaki ke rumah nenek saya tersebut. Lelahnya jangan ditanya namun pemandangan disana sungguh mengagumkan. Semoga pemerintah semakin memperhatikan desa – desa pelosok seperti Desa nenek saya di puncak gunung Kali Jering sana.
Tidak terasa dua minggu ini saya lewati dengan berlibur dibeberapa kota dari Jawa Timur, Jawa Tengah hingga pulau Madura. Saatnya saya kembali menikmati libur saya di rumah dengan beberapa pekerjaan yang sudah menanti. Sampai jumpa di liburan berikutnya J



indahnya sunset di kali dekat rumah nenekku

kebun di dekat kali

tanggul 

kali kecil yang membatasi tanggul dengan rumah penduduk