Easter Dress

Rabu, 04 Februari 2015

Happy Holiday Part 2

Bertemu lagi dengan liburan hari ke dua, kali ini agenda kami adalah ke Kota Apel yaitu Kota Malang yang memang sudah terkenal dengan eksotika tempat wisata dengan berbagai macam penawaran wisata yang dijamin nggak akan bikin bosen kalau datang kesana dan selalu ingin lagi dan lagi kesana, karena rasanya nggak habis – habis wisata yang bisa dikunjingi disana. Kali ini agenda kami adalah ke Museum Angkut. Sayangnya yang ikut ke Malang hanya berempat, Saya, Aldini, Putri (Hana) dan Sita karena yang lain memiliki agendanya masing – masing.
            Dari rumah Saya di Sidoarjo kami naik kereta penataran, harga tiketnya hanya Rp. 5.500,- saja. Sekedar informasi kami berempat ke Malang dengan bonek alias bondo nekat. Bagaimana tidak nekat, dari kami tidak ada yang tau jalan menuju tempat wisata yang akan kami tuju. Awalnya kami berencana ke Museum Angkut dan Selecta. Kami browsing angkutan umum dari stasiun Kota Baru Malang ke dua tempat tersebut. Hingga pada akhirnya, kami cukup beruntung bertemu dengan seorang mahasiswa Universitas Brawijaya dan mau berbagi pengetahuan tentang transportasi yang dapat kami gunakan ke dua tempat tersebut. Dari informasi kakak tadi kami akhirnya menyewa sepeda motor yang kontaknya kami dapatkan dari internet.
            Dari stasiun Kota Baru Malang kami naik angkot ADL ke tempat penyewaan sepeda motor yang sudah diberitahu alamatnya oleh pemilik rental. Naik angkot ke tempat rental biayanya Rp. 4.000,- / orang. Kamipun sampai ke tempat rental sepeda motor. Dari jalan raya kami masuk gang kurang lebih 100 meter untuk dapat sampai ke tempat rental. Harga penyewaan sepeda motor untuk mahasiswa luar Malang sebenarnya kisaran Rp. 60.000,-/ sepeda motor. Namun karena kami menyewa dari siang hingga sore hari alias setengah hari kami mendapat sepeda motor yang harga sebenarnya Rp. 70.000,- kami mendapat harga Rp. 50.000,-/ sepeda motor. Kami menyewa 2 sepeda motor untuk 4 orang dengan batas waktu hingga pukul 18.00 wib hanya dengan meninggalkan 2 KTP dan 2 KTM. Dengan petunjuk dari pemilik rental kamipun sampai di Museum Angkut karena jalannya cukup mudah. Dari tempat rental ke museum angkut membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit. Enaknya jalanan di Malang bebas macet.
            Yeeey akhirnya sampai juga di Museum Angkut. Baru sampai depannya saja kami sudah dimanjakan dengan desain budaya Indonesia yang ditengah – tengahnya didesain seperti sungai dan dikelilingi berbagai Kota di Indonesia. Sebelum masuk Museum kami menyempatkan diri intuk ishoma terlebih dahulu. Karena dikejar waktu kami segera masuk ke Museum. Tiket masuk Museum ini Rp. 50.000,- / orang. Jika ingin satu paket dengan museum D’topeng cukup menambah Rp.10.000,- saja. Sayangnya disini kamera tidak gratis. Dikenakan biaya Rp 30.000,-/ kamera jika ingin membawanya masuk.


depan kerajaan inggris

depan kerajaan inggris

wajah indonesia


di eropa

suasana eropa



         







    Namun segala kelelahan dan perjuangan kami untuk sampai ditempat inipun terbayar sudah dengan isi Museum Angkut yang menrut saya sangat tidak mengecewakan. Di dalam museum terdapat berbagai kendaraan mulai dari sepeda ontel hingga mobil jaman dulu yang jarang kita temui saat ini, yang lebih menarik hati saya, masuk di Museum ini serasa keliling Dunia. Di dalamnya terdapat berbagai miniatur Kota mulai di Indonesia hingga Eropa. Luar biasa hingga kami lupa waktu, padahal rencana jam 3 sore sudah harus keluar dari tempat ini namun kami baru bisa menyelesaikan keliling Museum hingga jam 5 sore. Rencana kami ke Selectapun harus batal. Kamipun istirahat dan solat setelah lelah berkeliling Museum. Setelah itu, kamipun langsung kembali ke tempat penyewaan motor dan tepat waktu mengembalikan motornya.



            Lanjut balik ke stasiun kami naik angkot ADL seperti saat berangkat. Sampai depan stasiun kamipun beristirahat solat dan melepas rasa lapar sambil menunggu kereta kami yang berangkat pukul 8 malam dan sampai di rumah di sidoarjo jam 10 malam. Cukup melelahkan namun menambah pengalaman baru bagi kami.
            Meski lelah, kami masih punya agenda esok hari yaitu ke pulau garam Madura dan ke Museum House of Sampoerna.
Dari rumah saya, kami harus berangkat jam 6 pagi. Kami sudah membuat janji bertemu dengan teman – teman yang lain di depan gerbang tol Suramadu. Jembatan terpanjang di Asia yang panjangnya saya tidak sempat mengukur hehe. . Oh iya, anggota kami bertambah satu orang, namanya Nisa dia adalah saudara Magita dari Palembang. Setelah berfoto di tepi pantai kamipun langsung berangkat ke Bangkalan menyeberangi jembatan Suramadu. Untuk sepeda motor dikenakan biaya tol Rp. 3.000,-/ sepeda motor. Sebenarnya tidak boleh berhenti di tengah jembatan. Namun, kami juga ingin mengabadikan moment diatas jembatan ini. Teman – teman jangan ditiru ya hehe.
jembatan suramadu dari dekat

mercusuar

            Dari jembatan kami menuju ke sebuah mercusuar peninggalan Belanda perjalanan kami cukup jauh membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam, luar biasa lelahnya. Masuk ke tempat ini dikenakan biaya masuk Rp. 2.000,-/ motor dan biaya kebersihan mercusuar Rp. 4.000,-/orang. Menara ini memiliki 16 lantai. Kebayang kan betapa lelahnya harus menaiki tangga 16 lantai yang tangganya juga cukup menakutkan. Namun lelah kami terbayar dengan pemandangan luar biasa yang dapat kami lihat dari puncak mercusuar. Kita dapat melihat eksotisme laut Madura dan kapal – kapal yang sedang berlayar di lautan. Karena waktu kami terbatas, kami harus kembali saat pukul setengah sebelas tiba karena kami harus sampai di Museum House of Sampurna pukul 12.00 wib jika ingin menikmati bus SHT. Kamipun kembali ke Surabaya dengan menaiki veri agar memiliki sensasi yang berbeda dengan saat berangkat, selain itu juga karena lebih cepat jadi kami lebih menghemat waktu. Naik veri dikenakan biaya Rp. 7.000,-/ sepeda motor dan Rp. 5.000,- untuk penumpangnya.

            Kamipun sampai di Surabaya. Bus SHT kami berangkat pukul 13.00 wib jadi kami masih memiliki waktu untuk solat terlebih dahulu. Dengan SHT kita bisa keliling Surabaya dengan rute yang telah ditentukan pihak pengelola kami juga memiliki tour guide yang menjelaskan setiap jalan yang kami lewati. Kami memiliki waktu satu jam  untuk berkeliling. Kali ini kami mengunjungi salah satu klenteng tertua di Surabaya yang saya lupa namanya dan Museum Bank Mandiri, kami ditemani salah satu turis asing asal jerman yang namanya saya lupa karena sulit diucapkan hehe. Ternyata Surabaya memiliki sejarah yang luar biasa dan dihuni oleh beberapa etnis mulai dari Jawa, Jepang, Belanda, Cina dan Arab. Selama ini saya sering menyusuri jalan ini namun tidak pernah tau sejarah KotaTua ini. Pengetahuan luar biasa tentang kota tempat saya menuntut ilmu ini.
            Selesai dari Museum House of Sampoerna kami mengisi perut di salah satu tempat goregan namanya goreng girang. Disana menjual pisang goreng dengan toping beraneka ragam membuat pisang goreng naik kasta dan tempat ini juga sudah terkenal bahkan sampai diliput oleh salah satu stasiun TV Nasional. Harganya cukup sebanding dengan rasanya Rp. 10.000,- dan Rp. 15.000,-/ porsi isi 6 pisang goreng bisa memilih dengan berbagai rasa. Selesai dari sini Surabaya diguyur hujan dan banjir, seperti inilah Surabaya. Kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Nuruzzaman Unair untuk menunaikan Solat Ashar. Hujan membuat malas untuk melanjutkan perjalanan namun kami menyempatkan diri ke belakang Monument Kapal Selam untuk sekedar berfoto dengan Icont Surabaya yaitu patung ikan dan buaya.

            Go Surabaya Kota Pahlawan, Kota yang menyimpan banyak sekali sejarahnya. Dan kini sudah menjadi kota metropolitan, semoga Surabaya kedepannya lebih luar biasa lagi dalam tata ruang kotanya dan tidak pernah melupakan sejarahnya. Sampai jumpa liburan berikutnya J

Minggu, 01 Februari 2015

happy holiday (bolang in frame)

        selamat datang februari. selamat datang bulan yang kata orang penuh dengan kasih sayang. kali ini saya hadir dengan liburan luar biasa dibeberapa kota. pertamakalinya liburan beruntun seperti ini. ceritanya mulai dari saudaraku dari jogja yang ingin berlibur di jawa timur. akhirnya saya mengajak teman saya yang menurut saya mengerti daerah - daerah wisata di surabaya, ya saya mengajak teman saya lyntar dan ketika membicarakan liburan di depan teman - teman kuliah yang lain mereka juga tertarik untuk berlibur bersama. di hari pertama saya turut mengajak renny yang rumahnya satu kota dengan saya dan juga qory teman SMA saya.
       tujuan pertama, yang sudah tidak asing ditelinga. surabaya adalah kota pahlawan jadi aku mengajak saudara saya putri (hana) dan temannya dari jogja sita bernapak tilas sejarah kota tempatku menuntut ilmu ini yaitu tugu pahlawan. bagi yang ingin ke tugu pahlawan ini tidak perlu khawatir,tiket untuk masuk musiumnya cukup terjangkau yaitu lima ribu rupiah saja atau jika tidak ingin masuk musium berfoto di pelataran tugu pahlawan saja sudah cukup indah. di dalam musium tentunya banyak menggambarkan sejarah kota surabaya dengan cara yang berbeda - beda, ada dengan media patung, relief, diorama bahkan gambar - gambar tiga dimensi yang dilengkapi dengan suara ala - ala jaman doeloe. 
        
kami bersembilan

dari kanan saya, putri (hana) dan sita

di halaman depan tugu pahlawan

     next lokasi, tidak jauh dari tugu pahlawan kamimenuju musium kesehatan karena kami sebagian besar adalah mahasiswa kesehatan. sebelum ke musium kesehatan kami beristirahat, solat dan mengisi perut sejenak, sayangnya kami kehilangan 1 personil yaitu nina yang harus pamit karena harus menjemput adiknya. lanjut ke musium kesehatan, cukup mengesankan namun sayang musium ini terkesan sepi pengunjung. wisatawan jarang meminati musium ini. mungkin karena memang jaman sudah berubah, anak - anak lebih senang jalan - jalan di mall daripada berwisata sejarah seperti ini apalagi seperti kota besar surabaya ini yang disana sini isinya mall sampai membuat saudara saya terheran - heran dengan banyaknya gedung pencakar langit di surabaya, katanya sangat berbeda sekali dengan jogjakarta yang pembangunan gedung - gedung seperti itu mulai dibatasi, kembali ke musium kesehatan, saya akui memang nuansa horor terasa di tempat ini mungkin karena sepi dan barang - barang yang ada didalamnya cukup asing. yang lebih membuat kami terasa aneh tiket parkir disini lebih mahal daripada tiket masuk musiumnya. untuk 1 sepeda motor dikenakan tarif parkir duaribu rupiah dan untuk tiket masuk musium dikenakan biaya seribu lima ratus rupiah. yang tak ketinggalan pegawai hingga satpam disini cukup peramah, bahkan ada salah satu pegawai yang mau menemani kami dan sedikit bercerita tentang barang - barang yang ada didalam musium


pintu masuk musium kesehatan

salah satu koleksi musium : mentri kesehatan indonesia dari tahun ke tahun
      selesai dari musium kesehatan, lanjut lokasi yang ditunggu - tunggu: hutan mangrove surabaya. setelah kehilangan satu personil, ketika  ke mangrove personil kami kembali bertambah. yap, namanya magita teman kampus kami, dia baru dari madura jadi baru bergabung di lokasi terakhir. magita adalah yang akan menjadi tour guide dihari ketiga liburan kami. dia akan mengajak kami ke pulau garam madura (yang akan saya ceritakan pada part ke 3). ada kejadian saat menuju mangrove, kami sempat terpisah dengan renny dan sita beruntung kami bisa bertemu dijaan dekan dermaga. kamipun melanjutkan kedalam wisata mangrove. pemandangan yang indah cukup membuat kami puas dengan wisata penutup di hari pertama ini. ternyata dibalik panasnya surabaya ada juga tempat wisata alam seindah ini. ini merupakan aset luar biasa bagi surabaya. namun sayangnya kami teralu sore sampai ke tempat ini sehingga tujuan kami untuk mengarungi sungai menuju pantai dengan perahu gagal karena tempat penyewaan perahu sudah tutup. kami harus puas dengan berfoto diatas perahu yang sedang bersandar dibibir sungai. tak apa lah pemandangan hutan mangrove cukup memanjakan mata. semoga bisa kesana lagi dan bisa naik perahu.







    sore hari cuaca di surabaya memang tidak bersahabat. kamipun memutuskan untuk pulang ketika langit mulai gelap dengan gumpalan gumpalan awan berwarna hitam dan suara gemuruh dari langit mulai menggelegar. sekedar cerita tentang situasi kota surabaya. ada yang patut dibanggakan dari wisata wisata di surabaya namun adapula yang membuat surabaya kurang diminati karena keadaan alam maupun warganya.
     saudara saya putri (hana) dan temannya sita yang berasal dari kota gudeg jogjakarta cukup kaget dengan situasi di surabaya. yang pertama baru keluar dari daerah rumah saya yang berlokasi di kota sidoarjo mereka langsung berkomentar bahwa ternyata jalanan kota ini macet padahal bagi kami orang sidoarjo suasana jalan pada saat itu adalah rame lancar karena belum merasakan naik motor serasa berjalan kaki bila tiba di surabaya saat jam berangkat kerja dan jam pulang kerja. kedua, surabaya dan sekitarnya memang memiliki cuaca yang cukup panas, bukan cukup sih tapi memang panas dan dipadati dengan asap kendaraan yang memadati jalanan. ketiga, banyaknya mall, hotel dan gedung pencakar langit di surabaya membuat surabaya semakin terlihat menjadi kota metropolitan setelah ibu kota jakarta dan jauh seperti di jogja yang katanya pembangunan gedung tinggi seperti itu mulai dibatasi. keempat, dalam panasnya surabaya di musim hujan ini ketika sore hari kota pahlawan ini selalu diguyur hujan, sedihnya sekali diguyur hujan pasti akan datang banjir yang akan surut dipagi harinya dan kembali banjir saat hujan turun di sore hari. terakhir, budaya yang tidak patut dicontoh, mereka benar - benar terheran - heran dengan lalu lintas kota surabaya, ditengah kemacetan banyak motor dan mobil yang seringkali tidak ramah dengan berkali - kali membunyikan klakson sampai - sampai saudara saya bilang terlalu lama di kota ini membuat telinganya sakit mendengan kendaraan membunyikan klaksonnya selain itu ketika di lampu merah, orang surabaya terkesan brutal alias tidak tau aturan. mereka selalu berhenti di depan zebra cross yang logikanya tidak akan melihat apakah lampuya sudah hijau atau belum, selain itu juga membahayakan lalu lintas dari jalur lain dan juga ketika lampu merah masih menyala kurang beberapa detik kendaraan bermotor itu sudah ngluyur saja meski lampu belum hijau. kata saudara saya lagi, itu sangat jauh berbeda dengan jogjakarta yang tertib dalam berlalu lintas, saat ini saya sudah membuktikannya dengan menyusuri jalanan kota jogjakarta yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengan surabaya (akan saya ceritakan part selanjutnya).
      ini adalah perjalanan liburan hari pertama, thanks to teman - teman yang bersedia menemani liburan di hari pertama. sampai jumpa di liburan hari berikutnya, happy holiday :)







Jumat, 02 Januari 2015

Kenangan Ini Milikku


Seminggu ini aku berada dalam kebosanan menikmati libur Natal dan Tahun Baruku yang aku isi dengan belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujianku yang sudah didepan mata. Hari ini seharusnya aku ada praktikum yang belum terlaksana sebelum libur menjelang. Tapi, seperti biasa lagi – lagi dosen membatalkan praktikumku.
Siang itu, cuaca di kotaku cukup menyejukkan, biasanya sore hari akan diguyur hujan. Hujan menjadi sangat istimewa karena cuaca di kota ini yang biasanya begitu terik. Karena sudah terlanjur ganti baju aku memutuskan untuk jalan – jalan. Aku sudah lama tidak jalan – jalan di kota ini karena sibuk kuliah di Luar Kota. Aku memutuskan untuk jalan – jalan di salah satu pusat perbelanjaan di kota lumpur ini.
Libur Natal dan Tahun Baru ini membuat berbagai toko berlomba – lomba memberi diskon besar – besaran apalagi di mall sebesar ini. Baru saja masuk mataku langsung dimanjakan oleh berbagai merk baju dan sepatu yang bertuliskan diskon mulai dari sepuluh persen hingga lima puluh plus empat puluh persen ditambah gratis voucher lima puluh ribu disetiap pembelian. Bagai burung yang baru keluar dari sangkarnya, ini benar – benar cuci mata bagiku. Belanja memang bagai surga dunia untuk perempuan apalagi dimanjakan dengan diskon besar – besaran.
Sayangnya, aku belum tertarik untuk membeli salah satu barang di tempat itu. Aku melanjutkan langkah kaki memutari sudut demi sudut pusat perbelanjaan ini. Hampir seluruh tempat yang menarik hatiku sudah ku kunjungi. Entah mengapa pikiran dan langkah kakiku seiring sejalan membawaku singgah ke sebuah toko buku didalam pusat perbelanjaan ini. Aku tak tau apa yang menjadi daya tarik dari toko buku itu, padahal aku sedang tidak ingin membeli buku apapun atau pernak – pernik toko buku lainnya.
Mataku melihat sana – sini mencoba mencari sesuatu yang menarik hatiku. Tiba – tiba aku teringat bahwa diakhir minggu ini ada ulang tahun salah satu Unit kegiatan Mahasiswa yang aku ikuti di kampus, dalam acara itu semua wajib membawa sebuah kado.
“Kenapa tidak sekalian aku membeli kadonya, mumpung ada disini”. Gumamku dalam hati. “Kalau beli disini kan barang – barangnya juga bermanfaat”. Sambungku.
Aku mulai memilih – milih kado apa yang akan aku beli. Kubuka satu persatu barang – barang yang berjajar di etalase toko. Satu persatu aku jelajahi barang – barang dengan berbagai motif yang menarik hatiku. Ketika asik memilih tiba – tiba dari jauh ada yang ganjil dimataku. Ada sesuatu yang begitu familiar dipikiranku. Langkah kakiku membawa tubuh semampaiku mendekati benda itu. Benda itu adalah sebuah kotak kado. Tentu tak ada yang menarik mendengar kata “kotak kado” tetapi bukan itu yang menarik langkahku menghampirinya. Ada yang lebih menarik dari sekedar kotak kado, namun motif dari kotak kado itulah yang menarik bagiku.
“ Motif ini…”.
 Kotak kado itu bermotif hati dan bertuliskan “love” berwarna coklat yang bergradasi indah. Motif itulah yang berhasil membuat pikiranku singgah dalam sebuah peristiwa. Ada sebuah peristiwa besar dari motif itu.
Hari ini adalah hari terakhirku bersama teman – temanku ditempat ini, tentunya menjadi hari terakhirnya pula. Ada sesuatu yang memang sudah aku persiapkan sebelumnya. Tempat ini memang luar biasa. Menjadi tempat pertemuan kita, tempat yang menyatukan kita dan banyak cerita yang kita lahirkan di tempat ini, tempat inipun yang menjadi saksi setiap lika – liku  perjalanan kita dan nantinya aku akan membuat sebuah keputusan besar bahwa tempat ini menjadi tempat yang memisahkan kita dan menjadi tempat terakhir dari cerita yang selama ini kita torehkan.
“ Aku nggak ulang tahun hari ini”.
Aku terus menyodorkan tas coklat bergambar nada – nada musik yang indah. Terus memberanikan diri meski tanganku sudah mulai gemetar sejak tadi. Memaksanya menerima hadiah itu meski hari ini bukan hari ulang tahunnya.
Dia menerima tas itu dan berusaha membukanya, namun berhasil aku gagalkan karena aku memintanya untuk membukan kado itu di rumah dan membukanya sendiri.
Tanpa sepengetahuanku dia telah membuka kado itu di tempat ini juga. Dia membuka tas berisi sebuah buku bersampul kertas kado bermotif hati itu. Dia membaca bait demi bait dari tulisan yang ada didalam buku itu.
Aku memang sengaja menulisnya, sejarah perjalanan kami selama ini. Ada hal yang ingin aku ungkapkan disana. Ini memang moment yang tepat. Di tempat ini kita dipertemukan dan dipersatukan dan ditempat ini pula kami harus mengakhiri segalanya.
Aku harap dia mengerti maksudku.
“ Lalu, apa yang harus aku lakukan?”.
Ada sebuah penyesalan di raut wajahnya. Terlihat sebuah beban yang begitu berat tergambar dalam dirinya sambil sesekali memandangku seperti ada sesuatu yang ingin ia pastikan dariku.
“Apa aku harus mutusin dia?”. Sambungnya pendek.
Aku melempar senyum pada laki – laki bertubuh tinggi itu.
“Tidak. Aku memberikanmu itu bukan untuk memisahkan kalian dan bukan untuk memintamu kembali padaku”. Jelasku padanya.
“Iya aku sudah membaca semuanya, semua sudah kamu ungkapkan disana”. Dia menganggukkan kepalanya.
Arian nama laki – laki yang berhasil menarik hatiku selama dua tahun ini. Dia mengajakku duduk, bukan karena lelah berdiri tetapi lebih karena mati gaya dalam situasi seperti ini. Selama ini kita memang hampir tidak pernah terjebak dalam suasana kalut dan menegangkan seperti ini. Akupun mengikuti ajaknnya.
“Dita…”. Dia memanggil namaku pelan setelah lama kita saling diam dalam kekakuan bibir kami untuk sekedar mengucapkan sepatah dua patah kata.
“Ya..”. jawabku singkat.
Rasanya pikiran ini juga begitu keras berpikir menyusun kata – kata yang harus diucapkan. Padahal aku sudah menyiapkan semuanya jauh – jauh hari karena aku yakin dia akan mengajakku membicarakan ini dan kami akan terjebak dalam situasi yang sulit ini. Aku sudah menyiapkan jauh – jauh hari tentang bagaimana harus menghadapinya dalam situasi seperti ini, tentang apa saja yang akan kukatakan padanya untuk memperjelas segala maksudku dan akupun sudah mempersiapkan mental untuk menerima segala apapun keputusan yang akan kami ambil meski dalam keputusan terburuk sekalipun. Namun semua hilang saat tubuhku harus berhadapan dengannya. Situasi seperti ini merusak segala persiapan yang telah aku lakukan.
Arian menggenggam telapak tanganku kuat – kuat. Tangannya begitu dingin menjalar ke telapak tanganku.
Aku memandangnya lekat – lekat. Terlihat matanya mulai memerah, ada rintik kecil dibalik kacamata minusnya. Aku menghindarkan diri dari pandangannya karena takut air mataku jatuh melihat matanya yang mulai berkaca – kaca.
“Aku sayang kamu Dita”
Dia memulai pembicaraan kami lagi setelah aku lama diam tak mampu menggerakkan bibirku barang sebentar saja.
“Aku tau”.
Aku berusaha melempar senyum dalam kesakitan batin yang dalam.
“Tapi sekarang sudah bukan saatnya”. Sambungku.
Dia memang selalu begitu, hanya ketika dalam keadaan terdesak seperti ini saja dia mengatakan rasa sayangnya, aku tau dia tak pernah tega melihat aku menangis ataupun terlihat bersedih meski terkadang dia tidak memahami bahwa kebanyakan tangisku disebabkan karena Dia. Aku paham hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan. Mengapa rasa cintaku begitu besar kuberikan pada orang yang setia membuatku menangis.
Cinta yang tulus tidak membutuhkan sedikitpun alasan untuk kuberikan. Semua mengalir begitu saja tak ada yang memaksakan. Tidak memilah status sosial orang tersebut. Cinta tetap saja tentang rasa. Rasa yang tak pernah kita tau dimana dia akan singgah. Yang pasti rasa itu akan singgah didalam hati pilihan Tuhan. Bukankah rasa kasih itu hadirnya karena Tuhan yang menganugerahkan dan Tuhan yang memilihkan. Kita tak pernah tau akan takdir Tuhan yang begitu luar bisa untuk mempertemukan sepasang anak manusia untuk saling jatuh cinta.
Aku rasa dia mulai mengerti dengan maksudku. Aku dan dia bersama janji – janji yang kami utarakan satu sama lain. Aku berusaha memahami cintanya pada Nasya, perempuan yang tak jauh dari kehidupanku bahkan sebenarnya takdir sudah mempertemukan kami sejak kami baru dilahirkan. Nasya adalah tetanggaku ketika kami masih menjadi bayi putih tak mengenal dunia, hanya saja kami tak pernah saling mengenal sebelumnya karena ketika masih bayi aku ikut tinggal bersama dengan nenekku di luar kota dan kemudian pindah ke rumah yang aku tinggali sekarang ini bersama dengan orang tua dan saudara – saudaraku.
 Akupun melihat bagaimana Dia  berusaha memahami rasa cintaku padanya dan bagaimana dia membalas rasa cintaku. Aku tak pernah memaksakan apapun. Apapun tentang hubungan kami. Aku mengikuti alur cerita yang menjadi inginnya. Aku tak ingin ia menyakiti Nasya seperti yang pernah ia lakukan padaku.
“Tapi kita tetep berteman kan Dit?”.
Arian seakan tak ingin kehilanganku sepenuhnya. Aku berusaha menanggapinya dengan positif.
“Iya pasti, tapi semua perlu proses”.
Dia tersenyum mendengar jawabanku.
Aku berusaha mencairkan suasana dengan obrolan ringan seputar cerita – cerita lucu yang pernah kita lalui. Diapun berusaha mengalihkan pembicaraan dengan membuka pembicaraan tentang ujian yang akan menyambut kita tahun depan bersama dengan cita – cita kami setelah lulus dari tempat ini. Kamipun bersalaman tanda damai dalam keadaan sulit ini.
Setiap masa memiliki sejarahnya dan setiap hati memiliki pilihannya.
Seperti sejarahku bersamanya yang slalu ada dalam kenangan dan pilihan hati kami untuk menjalani hidup masing – masing. Singkat saja kesimpulannya. Mungkin kami belum berjodoh.
Aku percaya takdir Tuhan tak pernah keliru. Perpisahan ini adalah jalan terbaik pilihan Tuhan yang ditakdirkan pada kami. Aku dan dia layak mendapatkan pendamping ideal pilihan kami masing – masing. Tentunya yang terbaik untuk kami.
“Ah apa yang aku pikirkan”. Gerutuku sambil mengusap air mata yang berhasil menetes riang diwajahku.
Waktu menyadarkanku bahwa aku sudah terlalu lama ditempat ini bersama apa yang aku pikirkan sejak tadi. Aku harus segera pulang dan kembali menyiapkan diri untuk ujian esok pagi. Akupun mengambil barang yang kupilih untuk kado ulang tahun di Unit Kegiatan Mahasiswa yang harus kubawa akhir minggu ini dan membayarnya di kasir.
Aku mulai melangkahkan kakiku keluar dari toko dan pusat perbelanjaan ini dengan perasaan bercampur – campur. Ada kegetiran dalam diriku mengingat kotak kado yang kutemui tadi. Ada seberkas kenangan darinya. Dulu aku membeli kertas kado itu juga di tempat ini, tempat yang sama dengan apa yang aku jumpai saat ini. Kotak kado itu berhasil menggugah setiap kenangan yang telah terkubur dalam di hidupku.
Sebentar lagi tahun akan berganti begitupula denganmu yang akan mengganti batang usiamu, aku yakin pasti kini kau semakin dewasa, aku yakin kamu semakin menjadi laki – laki yang baik, bukan hanya baik untukmu tetapi juga baik untuk orang disekelilingmu. Aku yakin kamu masih lurus dengan segala cita – citamu yang pernah kita angankan bersama. Namun, tak ada sedikitpun pikiran untuk memberimu sedikit ucapan selamat hanya doa dari jauh yang kutujukan untukmu. Ini adalah hari ketiga ditahun ini untuk yang kedua kalinya kita tak lagi bersama. Aku masih mengingat janjiku yang sedang berusaha aku tepati. Selama ini aku memang sengaja mendelete-mu dari kontak BBMku, menghapus nomor teleponmu dari kontak ponselku, tidak menerima permintaan linemu, menghapus pertemanan di facebook dan twitterku.
Bukan karena benci. Aku tak pernah sedikitpun membenci Arian. Harus dipahami menghilangkan bayangannya sungguh sangat tidak mudah apalagi jika kita masih bertemu meski hanya sekedar di dunia maya. Namun sesuatu yang tidak nyata itu justru membuat semakin tergugahnya kenangan – kenangan masa lalu. Meski tak selalu masa lalu itu buruk, ada sesuatu yang memang harus dipahami bahwa tak semua yang kita pikirkan sejalan dengan kenyataan meski semua telah tersusun dan tergambar dengan rapi, Tuhan selalu memiliki jalannya yang jauh lebih indah.
Kamu memang bukan milikku. Sungguh aku sudah tak mengharapkanmu untuk kembali.  Tapi kenangan ini adalah milikku, yang menjadi cerita dalam hidupku dan berhak untuk kukenang kapanpun dan dimanapun hingga akhir masaku.  


Jumat, 26 Desember 2014

Ketika Tawa Mereka adalah Harapan Kami

Barakallah akhirnya saya kembali dengan janji saya, akhirnya dapat berjumpa dengan farewell fkp mengajar dan yang menjadi penutup dari kegiatan depsos di akhir tahun yaitu bakti sosial.
Setelah berbulan – bulan mengabdikan diri untuk anak – anak negri asuhan dari rumah pintar matahari di daerah jembatan merah, kini usai sudah serangkairan belajar mengajar serta bermain dengan anak – anak yang begitu luar biasa ini.  Lelah, emosi, canda dan tawa bersama mereka takkan terlupakan dan akan menjadi pengalaman berharga untuk saya kedepan. Ketika mereka jauh dari perhatian pemerintah, sungguh masih banyak yang peduli dengan nasib mereka, salah satunya kami keluarga Departemen Sosial BEM Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga yang bergerak dalam bidang sosial dimana salah satu program kerja kami adalah FKp Mengajar. Saya akui apa yang kami lakukan begitu sederhana, memang tak mampu merubah seketika kondisi anak – anak disana, tak mampu mewujudkan cita – cita mereka seketika, tak mampu merubah sifat buruk mereka dalam sekejap. Namun, saya yakin sekecil apapun itu pasti ada yang melekat dalam diri mereka. Begitupun sang pemilik kehidupan, Dia menghargai sekecil apapun usaha yang dilakukan hamba-Nya. Satu hal yang saya yakini sejak dulu, tiada jalan yang tertutup untuk sebuah kebaikan.
Kami hanyalah salah satu komunitas yang peduli, saya yakin di luar sana masih banyak komunitas – komunitas lain yang melakukan kegiatan seperti kami. Meski mereka adalah anak – anak yang kurang beruntung dalam kehidupannya namun mereka juga layak untuk bermimpi. Bercita – cita sesuai dengan hati nurani mereka, membanggakan dan membahagiakan orang tua mereka. Mereka juga memiliki semangat yang sama seperti anak – anak sesuai dengan usia mereka. Meskipun terkadang tak dapat dipungkiri perilaku mereka tak seperti anak – anak yang beruntung mendapat hidup serba berkecukupan. Kenakalan mereka mungkin dapat dianggap wajar karena lingkungan yang membesarkan mereka memang begitu keras. Namun, itulah tugas kita, tugas untuk mendidik mereka. Mereka membutuhkan orang – orang seperti kita.
Meski demikian, terkadang wajah teduh anak – anak itu seperti tak menampakkan segala kesulitan hidup mereka. Mungkin saja mereka tak mengerti betapa kerasnya kehidupan mereka dibandingkan dengan anak – anak lain seusianya. Mereka menikmati hari – harinya dengan tawa, dunia mereka adalah bermain. Hidup mereka adalah bermain atau mungkin beberapa dari mereka ada yang merasa iri dengan anak – anak lain yang lebih beruntung, namun mereka hanya diam dan terus melanjutkan hidup mengikuti arus waktu yang menyeret mereka.
Mereka adalah anak – anak hebat dan luar biasa, mereka hanya memerlukan pendidikan yang layak, bukan hanya pendidikan formal matematika, IPA ataupun IPS namun mereka juga perlu mendapat pendidikan moral agama dan psikologis yang jauh lebih penting untuk kehidupan mereka kelak.
Berbulan – bulan kami mengajar di tempat ini dengan berbagai pelajaran yang telah kami berikan pada mereka. Di akhir kegiatan kami, agenda kami adalah bermain, berbagi hadiah, berbincang tentang cita – cita dan yang paling penting evaluasi dari kegiatan kami adalah pemilihan perawat cilik yang diberikan kepada anak yang menurut kami paling baik ketika proses belajar mengajar.
Itulah keseruan kami dalam penutupan FKp Mengajar tahun 2014 ini. Meski lelah dengan pengabdian ini namun melihat anak – anak tertawa bahagia bersama kami cukup menjadi penghilang penat saat mempersiapkan segala kegiatan ini.
Dari FKp Mengajar lanjut ke kegiatan penutup kami yaitu Bakti Sosial. Kali ini kami memilih lokasi di Kampung 1001 Malam. Sebuah kampung dibawah Tol Dupak – Perak. Jika dilihat dari lokasinya memang layak kami melakukan Bakti Sosial di tempat ini. Untuk sejarah dan kisah kampung ini mungkin bisa dilihat dalam berita berikut ini. http://m.ayogitabisa.com/berita-gita/nasib-anak-anak-pemulung-dan-pengemis-di-kampung-1001-malam.html  atau http://beritasurabaya.net/index_sub.php?category=2&id=8242
Meski banyak rintangan untuk mencapai tempat ini, mulai dari perijinan yang begitu sulit, tempat yang jauh serta akses yang sulit kami tetap bersemangat untuk tetap memilih tempat ini sebagai lokasi Bakti Sosial kami. Tempat ini dapat diakses melalui tiga jalur. Pertama, dengan naik perahu menyeberangi sungai yang super duper kotor, airnya yang hitam, sampah dimana – mana dan bau yang menyengat. Kedua, kami dapat melewati sebuah pasar dan berujung gang sempit menuju kampung tersebut. Kedua jalur tersebut memaksa kami untuk melewati lorong tol untuk sampai di tempat kami mengadakan acara. Kamipun harus merunduk ketika melewati jalur ini, sudah pasti sulit untuk membawa barang – barang kami yang begitu banyak. Akhirnya, kami menggunakan akses ketiga, berhenti di jalan tol untuk menurunkan barang – barang dan rombongan kami yang tidak sedikit. Tapi jangan dikira kami melanggar rambu – rambu untuk tidak berhenti di jalan tol. Kami sudah bekerjasama dengan pihak jasamarga untuk menurunkan barang – barang di jalan tol.
Segala perjuangan itupun terbayarkan karena acara yang kami adakan berjalan lancar sesuai dengan rencana. Tak ada suatu masalah yang berarti yang kami hadapi disana. Warga kampung 1001 Malam begitu ramah menyambut kehadiran kami di tengah – tengah mereka. Acara yang melibatkan setiap angkatan di fakultas kami berjalan cukup meriah. Berikut  rangkaian acara kami.
Pertama, pemeriksaan kesehatan bagi lansia serta penyuluhan mengenai hipertensi , acara ini dipegang oleh angkatan 2012 dimana pemeriksaan kesehatan berupa cek Tekanan Darah, Gula Darah dan Asam Urat serta konsultasi gratis dengan pemberi konsultasi dari angkatan S2 Fakultas kami, begitupula dengan penyuluhan Hipertensi dengan pemateri juga dari S2.
Kedua, acara kami yaitu pemilihan balita sehat dan penyuluhan mengenai Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Acara ini dipegang oleh angkatan saya sendiri yaitu angkatan 2013 dengan pemberi materi dari S2. Acara ini berlangsung lancar hingga terpilih 5 balita sehat dengan juri dari mahasiswa S2, ketua BEM Fakultas Keperawatan dan perwakilan angkatan 2013 dengan berbagai kriteria penilaian.
Ketiga, yang tak kalah menarik yaitu penyuluhan Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang diberikan kepada anak – anak usia SD. Anak – anak terlihat begitu antusias dengan kehadiran kami disana, mungkin karena mereka jarang mendapati hal demikian. Acara PHBS ini dipegang oleh angkatan 2011 dengan pemberi materi dari angkatan mereka sendiri karena dinilai sudah cukup menguasai materi tersebut sebab mereka telah memasuki semester – semester akhir.
Menginjak acara yang terakhir sekaligus menjadi acara penutup dari serngkaian acara Bakti Ners di kampoeng Negri ini, yaitu pembagian sembako gratis. Sebelumnya kami telah membagikan kupon sembako kepada warga dengan dibantu ibu Lamijan selaku salah satu pengurus di Kampung ini. Acara berjalan dengan tertib sesuai dengan harapan.
Sedikit tambahan mengenai kampung ini. Meskipun tempatnya demikian, kampung ini telah berhasil menghasilkan karya sulam yang berhasil di ekspor sampai ke luar Negri. Menurut cerita dari Ibu Lamijan, dulu mereka dibina oleh istri rektor salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Surabaya. Dulu kampung ini memiliki banyak kader namun perlahan semua berkurang dengan sendirinya karena ketidaktelatenan warga. Menurut pengakuan Bu Lamijan, hanya tinggal beberapa saja warga yang bertahan membuat sulam rajut ini, mereka memasarkan hasil kerajinannya melalui internet yang telah diajarkan oleh Istri Rektor tersebut. Bu Lamijan sempat menuturkan, beberapa waktu lalu dipanggil oleh Lurah Krembangan mengenai karya dari warga kampung 1001 Malam (Kampung Tegal) tersebut. Menurut ceritanya, Lurah Krembangan tersebut baru tahu jika ada karya dari warganya yang telah dipasarkan secara international. Lebih mirisnya lagi, Ibu Lamijan juga mengutarakan pada kami yang waktu itu tengah berkunjung ke rumahnya, bahwa Ibu Walikota Surabaya sendiri tidak pernah tahu menahu mengenai kampung ini bahkan karya mereka juga tak pernah terdengar oleh Ibu Walikota. Sebelumnya kami juga sempat meminta sponsorship kepada pihak walikota mengenai acara ini namun sayang tidak ada respon positif dari pihak Walikota. Semoga setelah ini, Pemerintah semakin memperhatikan nasib rakyatnya yang seperti ini.
Itulah serangkaian kegiatan penutup dari Departemen Sosial BEM FKp yang amat saya sayangi yang telah memberikan saya tempat untuk mewujudkan sedikit demi sedikit mimpi kecil saya. Terimakasih untuk keluargaku DEPSOS 2014. I love you so much. Semoga tahun depan dapat lebih baik lagi, teruslah berbagi untuk Negri dan teruslah menjadi keluarga hebat untuk BEM di tahun – tahun mendatang. “We Love, We Share, We Care”.

Galery FKp Mengajar




peraih gelar perawat cilik











Galery Bakti Sosial 
Lokasi Baksos





Minggu, 08 Juni 2014

"with care to share" mereka juga layak bahagia :)

Sebuah diorama jejak harap karya anak merdeka. Kembali lagi bersama komunitas hebat yang telah melahirkan setitik cahaya untuk sebuah cita - cita sederhana, komunitas yang telah memberi harapan baru kepada ratusan anak Indonesia yang masa depannya hampir terancam. Mereka "Save Street Child", tepat hari sabtu kemarin (07/06) mereka merayakan ulang tahun yang ke-3 dengan tema "with care to share" sebuah pertunjukkan pentas seni yang digelar oleh pihak SSC yang diisi dengan penampilan anak - anak asuh mereka yang notebene adalah anak - anak jalanan di berbagai wilayah di Surabaya.
Inilah kemeriahan acara ulang tahun Save Street Child yang ke-3

Acara yang diselenggarakan di Balai Pemuda saat itu berhasil saya hadiri bersama sahabat saya lyntar yang telah memperkenalkan saya dengan komunitas ini dan juga teman - teman mapanza yang dulu kita juga pernah memberikan penyuluhan kepada anak asuh mereka. Alangkah bahagianya saya bisa bertemu dengan anak - anak yang dulu saya temui saat acara penyuluhan anak jalanan bersama MAPANZA dan acara Jumat Sehat milik komunitas ini yang pernah saya ikuti sebelumnya, mereka Tasya dan Sekar yang pernah saya ceritakan dalam postingan saya sebelumnya. Meskipun tak bisa bertegur sapa walau hanya sekedar say hello saya tetap bahagia bisa melihat anak - anak bangsa ini mempersembahkan sebuah penampilan yang keren bagi anak - anak dengan segala kekurangan seperti mereka. Tak lupa saat itu kami juga bertemu dengan kak Andy koordinator acara Jumat Sehat yang saya ikuti waktu itu.
Dari kanan : Carla, Saya sendiri, Kak Andy dan Lyntar

Dalam pentas seni ini ada yang membuat saya terkesan, sebuah komunitas pengamen jalanan yang bernama "lombok cilik" mengutarakan rasa terimakasihnya pada SSC ini. Mereka mengatakan bahwa mereka biasanya menyanyi diatas bus tapi karena SSC ini mereka bisa tampil diatas panggung yang bisa dibilang cukup megah. Namun sayang ada sebuah pernyataan yang membuat hati saya miris. Menurut pengakuan salah satu pengamen itu ia berusia 19th, dia hanya tamat SMP dan tak mau melanjutkan sekolah dengan alasan yang begitu klasik "malas".

Selain pentas seni diatas panggung ada juga pentas lukisan yang dilukis oleh komunitas ini sendiri saat acara ini berlangsung. Ada juga pendaftaran pengajar baru untuk mengajar bersama komunitas Save Street Child ini dengan pilihan berbagai tempat dan waktu. Semoga tidak ada halangan untuk saya bisa bergabung dalam upaya turut mencerdaskan kehidupan bangsa ini. 
Mereka melukis saat hingar bingar panggung sedang berlangsung

Lepas dari segala ketertarikan dan ketakjuban saya dengan SSC ini, ada lagi pernyataan salah satu pengurus SSC ini yang membuat saya turut menyayangkan seperti beliau. Saat itu beliau mengatakan bahwa mereka mendapat dukungan dari banyak pihak untuk acara ini namun yang paling diharapkan dari PEMKOT sendiri tidak ada respon padahal mereka berharap salah satu perwakilan dari pejabat Kota Surabaya bisa menempati kursi undangan yang telah disediakan dan memberikan sedikit tepukan tangan untuk penampilan anak - anak merdeka ini.

Semoga saya bisa berkontribusi pada acara - acara mereka selanjutnya dan saya doakan komunitas ini semakin besar semakin banyak relawan yang bergabung dan semakin banyak senyuman yang mereka ukir dari anak - anak kurang beruntung di wilayah Surabaya dan bisa meuas hingga di seluruh Indonesia :)

Narsisnya kami :

Dari kanan : Lyntar, Aam, Saya, Anang, Adan, Carla dan Anis

Dari kanan : Anang, Carla, Anis, Lyntar dan Saya


Dari kanan : Carla, Saya, Anis dan Lyntar

Ada 3 orang lagi yang tidak sempat terdokumentasikan, ada Aul, Alfian dan Derry :))))